JawaPos Radar

Rebutan Tumpeng Meriahkan Gebyar Suro di Gunung Kawi

11/09/2018, 17:42 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Gebyar Suro
GEBYAR SURO: Pawai budaya dan arak-arakan sengkala di Gunung Kawi. (Tika Hapsari/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Kekentalan budaya dan aneka ritual di Gunung Kawi sudah tersohor ke penjuru negeri. Salah satu yang menarik wisawatan adalah tradisi Gebyar Suro.

Pesarean Gunung Kawi, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim), jauh lebih ramai dibandingkan hari biasanya. Aneka rupa manusia tumplek blek di tempat yang penuh dengan nuansa budaya itu.

Mulai tua, muda, besar, kecil, laki-laki perempuan dan beragam latar belakang hadir di pesarean Gunung Kawi. Mereka memadati jalanan kampung yang sempit.

Gebyar Suro
GEBYAR SURO: Pawai budaya dan arak-arakan sengkala di Gunung Kawi. (Tika Hapsari/JawaPos.com)

Menggunakan payung dan bermacam penutup kepala lainnya, ribuan orang melindungi kepalanya dari teriknya sinar matahari awal Muharram. Ada yang berkumpul di lapangan atau terminal desa. Ada pula yang berkumpul di Pesarean Gunung Kawi. Tujuan mereka hanya satu, menyaksikan pawai sengkala peringatan 1 Muharram atau Suro.

Aneka rupa ogoh-ogoh ditampilkan. Ada yang berbentuk Garuda, buto, Calonarang dan Dewi Kilisuci. Setiap tandu atau jolen untuk memanggul sengkala juga terdapat tumpeng lengkap. Di barisan depan, ada deretan kelompok berbusana menarik dengan warna menyala.

Setiap kelompok berasal dari RW di kecamatan itu. Pengiringnya juga warga yang berpenampilan menarik. Ada yang berpenampilan ala Putri Bali, adat Jawa dan menampilkan kesenian Banjari.

Acara semakin meriah ketika kesenian reog Ponorogo serta penampilan drum band dari siswa sekolah turut tampil. Even itu dinamakan Gebyar Suro Pesarean Jawa. Sekitar 3.000 orang menjadi peserta dalam kegiatan itu. Bukan hanya dari Wonosari, namun ada juga yang dari Kepanjen.

Rombongan akan memandu jolen dan ogoh-ogoh keliling kampung menuju puncak pesarean Gunung Kawi. Kemudian ada tradisi rebutan tumpeng beserta isinya. Tradisi rebutan tumpeng menjadi salah satu yang dinanti pengunjung. Mereka percaya dengan memakan tumpeng yang sebelumnya sudah didoakan, akan membawa keberkahan selama satu tahun.

"Tumpengnya kan sudah diberi doa dan itu sebagai bentuk rasa syukur. Jadi saya percaya, memberikan berkah. Tentu dengan izin Allah," kata salah satu wisawatan dari Kota Malang, Slamet, 55.

Meski menjadi prosesi yang cukup menarik, namun puncak kemeriahan Gebyar Suro Pesarean Jawa bukan di rebutan tumpeng. Justru ada pada pembakaran sengkala. Kegiatan itu dilakukan di Stadion Gunung Kawi.

Bakar sengkala dimaknai sebagai penghapusan nafsu angkara murka dan segala sifat buruk dalam diri. Harapannya tinggal sifat baik yang juga membawa menuju kehidupan lebih bermanfaat.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, Gebyar Suro tahun ini ada tambahan pertunjukan tari. Yaitu, tari Gumrigahing Gunung Kawi. Pertunjukan melibatkan 95 penari. Mereka dari siswa SMPN 1 Wonosari, SMPN 4 Kepanjen, dan SMK Kepanjen.

"Tarian ini pernah memenangkan lomba tari kreasi tingkat Kabupaten Malang," kata Camat Wonosari Ahmad Muhwassi Arif kepada JawaPos.com di lapangan Wonosari, Selasa (11/9).

Ritual 1 Suro digelar sejak Senin (10/9) malam. Diawali dengan pagelaran wayang di Padepokan Eyang Djugo. Pagelaran wayang sekaligus menunggu kedatangan peserta napak tilas Eyang Djugo dari Kesamben, Blitar.

Jumlahnya tidak main-main, mencapai 1.200 orang. Mereka berjalan kaki menyusuri petilasan Eyang Djugo dan datang di pesarean pada tengah malam.

Acara yang dilaksanakan sejak empat tahun lalu itu sudah menjadi agenda tahunan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. Even terbukti mampu menarik ribuan wisatawan, bahkan dari luar Jawa. "Penuh wisatawan, bukan hanya dari Jawa saja," ungkapnya.

Salah satu wisawatan dari Tangerang, Welly mengaku selalu datang ke tempat ini setiap tahun. Bukan untuk ritual yang berkaitan dengan hal mistis, namun untuk menyaksikan pawai budaya.

Dia bersama keluarganya berangkat dengan kereta api. Bahkan, perjalanan itu sudah disiapkan sejak beberapa bulan lalu. "Senang saya dengan kegiatan tradisi seperti ini. Tidak hanya di Malang saya datangi, di Lasem juga. Kadang juga saya syukuran berupa tumpeng," ucapnya.

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up