Ketika Gatot Nurmantyo Hadiri 1 Sura di Solo

11/09/2018, 15:08 WIB | Editor: Ilham Safutra
Jendral (Purn) Gatot Nurmantyo (tengah), Pangdam DiIponegoro, Kapolda Jawa Tengah, Anggota DPR RI Aria Bima, Wakil Wali Kota Surakarta mengikuit prosesi Kirab Malam Satu Sura di kawasan Pura Mangkunegaran, Senin (10/9). (Damianus Bram/Radar Solo/Jawa Pos Group)
Share this

JawaPos.com - Penyambutan tahun baru Islam atau 1 Muharam di Solo berlangsung meriah. Perayaan itu disertai dengan kirab yang diadakan Pura Mangkunegaran, Solo, seperti yang digelar tadi malam (10/9).

Kemeriahan itu makin terasa ketika mantan Panglima TNI Jenderal (pur) Gatot Nurmantyo, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen Wuryanto, dan Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Condro Kirono turut hadir di acara tersebut.

Prosesi yang juga dilakukan untuk menyambut 1 Sura itu dimulai dengan jamasan pusaka dengan air kembang. Selanjutnya, empat pusaka dibawa rombongan kirab mengelilingi tembok Pura Mangkunegaran. Pusaka kembali dijamas sebelum disimpan di Pura Mangkunegaran.

Kirab Sura - Sejumlah abdi dalem Pura Mangkunegaran tengah membawa pusaka yang diarak keliling Pura Mangkunegaran dalam proses kirab malam satu Sura di Pura Mangkunegaran, Senin (10/9). (Damianus Bram/Radar Solo/Jawa Pos Group)

Selama kirab, rombongan berjalan keliling sembari tapa bisu atau berjalan kaki dengan berdiam diri. Ritual tapa bisu selalu dilakukan pada malam 1 Sura sebagai bentuk perenungan.

Ketua Panitia kirab Joko Pramudyo menjelaskan, bagi masyarakat Jawa, tahun baru menjadi sebuah momen untuk merenung dan berkontemplasi. "Kirab dilanjutkan dengan kegiatan semadi di pendapa. Kegiatan itu dimulai tengah malam hingga pagi hari," katanya.

Kalau Pura Mangkunegaran menggelar perayaan tadi malam, Keraton Surakarta baru menggelar nanti malam. Joko menjabarkan, kalender yang digunakan oleh dua ahli waris Mataram Islam itu memang berbeda. Jika mengacu pada penanggalan Sultan Agung, malam 1 Sura memang berselisih sehari dengan penanggalan pemerintah. Pura Mangkunegaran memiliki acuan sendiri.

"Karena kami merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, kami memilih menggunakan penanggalan resmi pemerintah," katanya. 

(irw/bun/c11/tom)

Berita Terkait

Rekomendasi