Ini Tantangan UMM Selama Membantu Korban Gempa Lombok

11/09/2018, 20:09 WIB | Editor: Dida Tenola
Tim relawan UMM saat menghibur anak-anak korban bencana gempa Lombok (Humas UMM for JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com- Bencana gempa bumi yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menggugah berbagai pihak untuk menyalurkan bantuan. Termasuk Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang ikut terjun langsung membantu para korban.

Bantuan yang dikerahkan mulai diturunkannya tim dari Lembaga Pelaksana Teknis (LPT) Psikososial UMM, Tim Medis Rumah Sakit Umum (RSU) UMM. Selain itu, untuk menguatkan karakter mahasiswa baru, UMM juga melakukan aksi flashmob "Pray for Lombok".

Rektor UMM Dr Fauzan mengatakan, kegiatan-kegiatan tersebut adalah salah satu media untuk meneguhkan kembali semangat para generasi muda terhadap nilai-nilai kebangsaan. "Jadi bukan sekadar memberitahukan identitas UMM. Tapi juga menegaskan bahwa UMM harus menjadi bagian dari masyarakat yang bertanggung jawab atas keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara," katanya, Selasa (11/9). 

Lebih lanjut, berangkat dua pekan setelah gempa pertama, tim LPT Psikososial UMM menggarap empat program utama. Antara lain psikoedukasi, terapi, forum group discussion (FGD), dan distract activity.

Koordinator LPT Psikososial UMM Ahmad Hendra Purwanto menerangkan, kegiatan-kegiatan tersebut merupakan bentuk penangangan penyintas bencana alam secara psikologis."Kami punya empat program utama yang ditujukan untuk mengembalikan kestabilan para penyintas," kata mahasiswa Psikologi UMM tersebut.

Terdiri dari 12 orang anggota, LPT Psikologi UMM juga membuka kelas trauma healing bagi anak-anak. Mereka mengajak anak-anak untuk bermain, belajar bersama, membacakan dongeng, dan kegiatan-kegiatan literasi lainnya. "LPT Psikologi memang fokus pada pemulihan psikologis para penyintas, tidak hanya orang tua tapi juga anak-anak," tambah Hendra.

Bersama dengan turunnya Tim LPT Psikologi, UMM juga menurunkan tim medis yang tergabung di RSU UMM. Mereka turut merasakan beberapa kali gempa susulan saat bertugas. Pada akhirnya mereka berhasil menyusuri 10 dusun dan desa yang berada di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara. 

Salah seorang anggota tim medis, Sandy Dewanto, menceritakan, saat melakukan penyisiran korban, mereka sempat mengalami beberapa kesulitan. Mulai dari akses jalan yang rusak hingga keterbatasan obat-obatan.

Berdasarkan hasil penyisiran selama sembilan hari, Tim Medis UMM bersama Relawan MDMC menemui korban-korban yang masih kesulitan mendapat penanganan. Para korban itu masih bertahan di posko-posko yang jauh dari pusat medis. "Sembilan hari di sana kami setiap hari masih menemukan banyak korban yang belum tertangani, karena memang akses jalan yang sulit," kata Sandy

 

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi