Berkas Perkara Otak Pembakaran Sekeluarga dan Eksekutor Dipisah

11/09/2018, 17:18 WIB | Editor: Budi Warsito
Rekonstruksi pembakaran 1 keluarga di Pannampu digelar Satreskrim Polrestabes Makassar, di jalan Serui, Selasa (4/9) lalu. (Syahrul Ramadan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Berkas perkara pembakaran rumah yang menewaskan satu keluarga di Makasssar masih dalam proses perampungan oleh Tim Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Makassar.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Satreskrim Polrestabes Makassar, Kompol Diari Astetika mengungkapkan, resume pemberkasan didahului oleh Akbar Daeng Ampu, tersangka pembakaran yang terjadi di Jalan Tinumbu, Lorong 166B, kecamatan Tallo, kota Makassar, beberapa waktu lalu.

Penyusunan resume dilakukan, untuk memisahkan kelengkapan berkas perkara antara Daeng sebagai otak pelaku dengan dua tersangka lainnya.
Dimana kedua tersangka lainnya diketahui sebagai eksekutor.

Rekonstruksi pembakaran 1 keluarga di Pannampu digelar Satreskrim Polrestabes Makassar, di jalan Serui, Selasa (4/9) lalu. (Syahrul Ramadan/JawaPos.com)

Mereka masing-masing, Andi Muhammad Ilham alias Ilo, 23 dan Zulkifli Amir alias Ramma, 22. "Jadi kita ada dua berkas, satu splitsing. Yang split ini yang tersangka otak pembakaran, Akbar Daeng Ampu. Sementara yang dua tersangka eksekutor itu kita satukan," terang Diari, saat memberikan keterangan di Makassar, Selasa (11/9).

Resume disusun, untuk memenuhi kelengkapan dua berkas perkara, dari ketiga tersangka. "Tetapi tetap ada keterkaitan dalam konteks perkara yang sama. Hanya berkasnya yang kita pisah," ujarnya.

Diari belum menyebut kepastian waktu kapan berkas itu akan dirampungkan. Namun, apa bila berkas telah dinyatakan lengkap, berkas kemudian akan diserahkan ke pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Makassar untuk diteliti.

Dalam kasus ini, satu keluarga yang menjadi korban adalah, pasangan suami isteri Sanusi, 70 dan Bondeng, 65. Selain itu, anaknya Musdalifa, 30; kemudian cucu Sanusi, Fahri, 24; Namira, 24 dan Hijas yang masih berusia 2,5 tahun.

Diari mengungkapkan, motif dibalik pembakaran yang menemaskan enam jiwa ini, dilatarbelakangi karena hutang narkoba. Korban Fahri, berhutang sebanyak 9 paket sabu-sabu dari Akbar Daeng Ampu. Sabu itu didapatkan melalui perantara dari dalam Lapas Kelas 1A Makassar.

Setelah beberapa lama dijanjikan untuk melunasi utang, Akbar Daeng Ampu terakhir mendapatkan kabar bahwa Fahri bakal lari keluar dari kota Makassar. Puncaknya, dari dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas 1A Makassar, Akbar Daeng Ampu kemudian mengintruksikan kepada tersangka lainnya untuk melalukan penganiayaan yang berhujung menghabisi nyawa Fahri dan keluarga.

Sebelum melakukan pembakaran pada Senin (6/8) sekitar pukul 04.00 WITA subuh, para tersangka lebih dulu mengkonsumsi minuman keras dan sabu-sabu. Barang haram tersebut diakui Ramma adalah milik dari Akbar Daeng Ampu.

Seluruh tersangka, hingga saat ini masih ditangani Satreskrim Polrestabes Makassar. Akibat perbuatan melawan hukumnya, para tersangka disangkakan melakukan pelanggaran pasal 170 ayat 1 dan 2, pasal pasal 351 ayat 2 juncto pasal 333 ayat 1 dan 2 KUHP dengan ancaman minimal 5 tahun penjara.

Pasal itu diterapkan juga terhadap tersangka lainnya. Sementara aktor utama dalam kasus ini, Akbar Daeng Ampu disangkakan melanggar pasal 340 KUHP subsidaer 187 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.

(rul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi