JawaPos Radar

Bencana Kekeringan Semakin 'Mencekik' Warga Gunungkidul

11/09/2018, 20:28 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Bencana Kekeringan
SUMUR BOR: Upaya pembuatan sumur bor di Paliyan untuk mengatasi bencana kekeringan. (dok. ACT DIJ)
Share this image

JawaPos.com - Langkanya air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi warga di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) semakin berat dirasakan. Terutama di wilayah Kecamatan Gedangsari, dengan medannya yang sulit terjangkau oleh truk tangki.

Kepala Desa Mertelu, Kecamatan Gedangsari Tugiman mengatakan, dari 1.321 Kepala Keluarga (KK) yang ada di wilayahnya, 150 KK diantaranya mengalami kesulitan air bersih yang parah. "Rumahnya di lereng perbukitan, sulit mengakses air bersih. Kalaupun beli harganya cukup mahal," katanya saat dihubungi, Selasa (11/9).

Harga per tangki air bersih yang bermuatan rata-rata 5 ribu liter bisa mencapai Rp 350 ribu. Terhitung cukup mahal dibandingkan wilayah lain di Gunungkidul yang sama-sama mengalami kekeringan.

Seperti di wilayah Gunungkidul bagian selatan yang hanya sekitar Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu. Membengkaknya harga ini karena kondisi geografis di Desa Mertelu cukup sulit diakses.
Banyak sopir tangki yang tak berani menyuplai air bersih ke sana. Hanya kendaraan yang bagus dan pengemudi berpengalaman saja yang sanggup.

"Kami sebenarnya ada program SAB (Sarana Air Bersih) atau pengeboran. Tapi belum maksimal, karena anggarannya minim," ucapnya.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul Edy Basuki menambahkan, diakuinya wilayah Mertelu memang daerah yang sulit terjangkau. "Medannya memang sulit. Tidak semua sopir berani," ucapnya.

Penanganan bencana kekeringan ini tak hanya dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat. Namun, pihak-pihak ketiga, dermawan, maupun yang sukarelawan juga ikut berkontribusi.

Salah satunya, Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIJ yang bersama melakukan pengeboran di 12 titik. Salah satunya di Dusun Karangmojo, Desa Grogol, Kecamatan Paliyan.

Dalam keterangan tertulisnya, pengeboran Wakaf Sumur yang dimulai sejak sepekan kemarin, telah dinyatakan selesai pada Senin (10/9) dengan kedalaman 62 meter.

"Biasanya sumur bor di Gunungkidul rata-rata kedalamannya antara 80 meter hingga 120 meter, syukur di Dusun Karangmojo ini di kedalaman 62 meter sudah dapat sumber air," kata Widi selaku koordinator pengebor.

(dho/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up