Bacaleg Berkarya Tewas Dibacok, Keluarga Duga Ada Motif Politis

Keterangan Pelaku Dinilai Janggal

11/09/2018, 05:30 WIB | Editor: Estu Suryowati
ILUSTRASI. Bacaleg dari Partai Berkarya Edy Rachman tewas mengenaskan, diduga menjadi korban pembunuhan berencana, (dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Bakal calon anggota legislatif (bacaleg) dari Partai Berkaya Edy Rachman ditemukan tewas mengenaskan pada Minggu (9/9). Kasus kematian korban masih diusut. Namun, pihak keluarga merasa ada yang janggal dari keterangan pelaku La Yappe, 65.

Andi Hanura, kakak korban, menyampaikan banyak yang tidak masuk akal dari keterangan La Yappe. Menurutnya, banyak keterangan pelaku yang memunculkan persepsi seolah korbanlah yang bersalah.

Pelaku menyebut saat kejadian berlangung, korban terlebih dahulu memukul dan menendang pelaku, hingga pelaku kalap dan membalas dengan perbuatan keji. Bahkan, disampaikan pula oleh pelaku, seolah-olah korban dalam kondisi mabuk sebelum kejadian tragis tersebut.

"Itu semua tidak benar. Sebab, kami komunikasi dengan dokter yang autopsi di rumah sakit, tidak ada kandungan alkohol atau miras (minuman keras). Waktu dimandikan juga mulutnya bau lumpur, bukan miras," kata Andi dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Selasa (11/9).

Dia menyampaikan kronologi yang dihimpun dari istri dan keluarga korban. Sebelum kejadian, sekitar pukul 01.30 Wita, korban dijemput oleh seorang kawannya bernama Irfan.

Saat itu mereka menggunakan motor masing-masing. Edi menggunakan skuter matik Scoopy hitam merah. Lalu mereka pergi ke sebuah warung makan di kawasan depan Perumahan Bumi Nirwana, Kilometer 5.

"Tapi, waktu ditemukan, motor yang ada di dekat korban itu Mio Soul bukan motor Scoopy-nya almarhum yang dibawa. Posisi korban juga telentang seperti dibuang di selokan," kata Ita Novianti, istri korban.

Kemudian, dari sejumlah fakta-fakta lainnya, seperti posisi luka bacok di tubuh korban, diduga korban dibacok dari belakang di bagian muka sebelah kanan. Kemudian ada puluhan luka bacok di punggung serta lengan.

Tangan kiri korban juga nyaris putus, sehingga tidak masuk akal jika korban sempat mengendarai motor untuk berobat. Hal ini diperkuat keterangan adik korban yang merupakan seorang dokter berinisial NA.

Bahwa tidak mungkin korban mampu mengendarai motor dalam kondisi badan penuh luka bacok. Apalagi, di lokasi penemuan jasad korban, kondisi parit bersih dan tak ada lumpur. Sementara kondisi korban penuh dengan lumpur.

Itu yang melatarbelakangi pihak keluarga menduga kuat indikasi pembunuhan Edy Rachman adalah pembunuhan berencana. Di dalam Pasal 40 KUHP, ancamannya hukuman mati atau penjara seumur hidup, atau penjara 20 tahun.

Keluarga korban juga tidak yakin korban menenggak miras bersama pelaku dengan patungan. Sebab, uang Rp 100 ribu yang diminta korban kepada istrinya, masih utuh dalam celana korban.

"Suami saya minta uang Rp 100 ribu, saya kasih dua lembar Rp 50 ribu. Uang itu masih ada di kantong celananya," tambah Ita.

Keluarga korban juga mengatakan, ada dugaan bahwa adanya aktor di balik pembunuhan itu untuk menjatuhkan korban yang akan maju dalam Pileg 2019 mendatang.

Sehingga pembunuhan berencana ini dilakukan dan La Yappe ditunjuk sebagai pelaku tunggal untuk dijadikan kambing hitam guna bertanggung jawab atas kasus ini.

"Waktu pelaku menyerahkan diri, pelaku bilang saya pelakunya. Dari bahasanya jelas sekali, dia mau mengaburkan pelaku lainnya. Makanya ini kami duga ada aktor di balik ini. Saya meminta kepada pihak kepolisian agar mencoba mengembangkan penyidikan ke arah itu," tambah Andi.

Terakhir, keluarga korban meminta masyarakat agar tak menyebarluaskan foto-foto korban dalam kondisi tewas mengenaskan. "Karena ini berkaitan dengan psikologis anak-anak. Kasihan ada empat orang anak yang harus dijaga. Jangan sampai mereka nanti besar melihat foto ayahnya dalam kondisi seperti itu," pungkasnya.

(jpg/est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi