Tradisi Jamasan Tosan Aji di Kota Batu

400 Keris Dicuci dengan Air Tujuh Sumber

11/09/2018, 17:10 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
JAMASAN: Tradisi meyambut satu Suro dengan mencuci benda-benda pusaka. (Fisca Tanjung/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Muharram atau Suro identik dengan mencuci benda pusaka. Salah satunya ritual Jamasan Tosan Aji atau mencuci keris yang diselenggarakan di Desa Banaran, Dusun Ledok, Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur (Jatim).

Sebanyak 400 keris dengan berbagai bentuk dan ukuran dicuci pada ritual Jamasan yang digelar di Pringgitan Singo Dermo, Selasa (11/9). Sekitar 10 orang dengan mengenakan pakaian adat Jawa tampak duduk berjajar rapi di depan baskom berisikan air dari 7 sumber yang ditaburi dengan kembang setaman.

Sebelum mencuci, mereka mengambil keris tersebut untuk didoakan terlebih dahulu. Setelah itu, keris dicelupkan ke dalam baskom berisi air dan selanjutnya dibasuh secara perlahan.

JAMASAN: Tradisi meyambut satu Suro dengan mencuci benda-benda pusaka. (Fisca Tanjung/JawaPos.com)

Ketua Forum Pemerhati Keris dan Tosan Aji Desa Bumiaji Wahyu Eko Purwanto menjelaskan, Jamasan Tosan Aji merupakan istilah serapan Bahasa Jawa. Jamas berarti mandi, Tosan itu benda keras, dan Aji artinya memiliki nilai.

Jadi, Jamasan berarti kegiatan pembersihan benda-benda dari besi yang memiliki nilai. "Nilai di sini bisa dalam artian sejarah dan artistik," ujar Wahyu kepada JawaPos.com ketika ditemui di sela-sela ritual Jamasan, Selasa (11/9).

Tradisi Jamasan memang selalu digelar pada 1 Muharram. Tujuannya sebagai momen atau rekonsiliasi bersama. "Kalau di orang Jawa, ada penanggalan baru itu refleksi diri. Sebelum memulai tahun baru, minimal atribut yang dipakai dilakukan pembersihan. Momen sakralnya disitu," kata Wahyu.

Terdapat tiga rangkaian kegiatan untuk menyambut satu Suro. Pertama, sugengan atau selamatan malam 1 Suro. "Tidak euforia tahun baru, tapi berdoa. Supaya tahun yang akan dimasuki mendapat perlindungan," jelasnya.

Kedua, Jamasan Tosan Aji dan Pentayuhan Pusaka. Ketiga, sugengan agung yang akan digelar satu minggu setelah Jamasan. "Ya, filosofinya memohon tahun bagus. Seluruh atribut dibersihkan," lanjutnya.

Kenapa keris sebagai benda yang dibersihkan? Wahyu menerangkan bahwa keris merupakan identitas bagi orang-orang terdahulu. "Keris itu identitas. Tidak hanya gelar, tapi juga menunjukkan kepangkatan seseorang," terangnya.

Keris terdapat dua jenis. Yakni, berbentuk lurus atau disebut lajer dan keris yang bergelombang atau disebut luk. Jenis keris luk sendiri dapat dilihat dari variasi gelombangnya. "Banyak variasinya, mulai dari 3 (gelombang), hingga paling banyak 27. Pokoknya jumlahnya ganjil," papar Wahyu.

Pada Jamasan yang sudah memasuki tahun kelima, setidaknya ada hampir 400 keris yang dibersihkan. "Dari forum kami ada 300 (keris). Dari masyarakat umum ada 95 keris," ulasnya.

Tradisi Jamasan sendiri terdiri atas tiga tahapan. Pertama, identifikasi keris. Tujuannya untuk membantu memudahkan tim penjamas mengetahui apakah keris tersebut sudah pernah dijamas sebelumnya atau belum. "Kalau masuk kategori sering dijamas, yang jamas ringan (kerjaannya), karena karatnya tipis," lanjutnya.

Kedua, pembersihan. Yakni, membuang karat pada logam. Setelah karat hilang, selanjutnya dilapisi dengan minyak sebagai filter. Terakhir, Pentayuan. Adalah meneliti kondisi sampai pada detail.

Misalnya untuk luk 7, diteliti berasal dari kerajaan mana dan pembuatnya siapa. "Setelah itu, keluar yang biasanya disebut hasil tayuh (sertifikat)," urai Wahyu.

Hasil tayuh untuk memudahkan pemilik keris menyimpan informasi. Sebab yang sering terjadi, anak dari pemilik keris tidak mengetahui informasi dari keris itu. Misalnya dibuat pada era apa. "Kalau ada informasinya kan bisa punya nilai ekonomis juga," tuturnya.

Dari seluruh keris yang dijamas, terdapat satu keris yang berasal dari abad 328 Masehi. "Itu paling tua, bentuknya lurus. Namanya Bromi Kedali," ungkapnya.

Kebanyakan, keris-keris tersebut berasal dari era Singosari dan Majapahit. Selain dari masyarakat Batu, warga dari luar kota juga melakukan Penjamasan di tempat tersebut. Seperti dari Magetan, Malang, Ponorogo, dan Surabaya.

(fis/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi