JawaPos Radar | Iklan Jitu

Soal Kasus Rektor Unnes, Menristekdikti: Tak Ada Pelanggaran

11 Juli 2018, 19:31:03 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Menristekdikti M. Natsir
Menristekdikti M. Natsir saat dijumpai wartawan usai meresmikan Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (11/7). (Dida Tenola/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia M. Nasir menyebut tidak ada pelanggaran pada isu dugaan plagiat yang melibatkan Rektor Universitas Negeri Semarang Fathur Rokhman. Menurutnya, justru karya tulis Fakthur lah yang dijiplak.

"Rektor Unnes itu pelanggarannya adalah tidak ada pelanggaran. Ya itu masalah publikasi yang dianggap plagiat," ujar Natsir kala meresmikan Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (11/7).

Sang Menteri pun mengisahkan awal mula dibuatnya karya tulis milik Fakthur. Dimana katanya, itu adalah hasil penelitian yang dibiayai melalui APBN tahun 2002 lalu atau sebelum menjadi rektor.

"Kemudian dia (Fathur) sebagai dosen metodologi, mengajarkan kepada anak didiknya. Bagaimana cara menulis yang baik dan diberikan contoh dia punya riset yang didanai itu," sambungnya.

Namun, contoh atau judul tulisan milik Fathur tersebut, lanjut Natsir, malah diambil oleh salah seorang mahasiswinya, yang kemudian diketahui sebagai Anif Rida. Diseminarkan dan terbit dalam prasidang Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya (Kolita) Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta tahun 2003. Judulnya Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas.

Fakthur yang merasa masih memiliki hak cipta atas karya tulis bikinannya tahun 2002 lalu, kemudian mempublikasikannya melalui penerbit Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra dan Pengajaran (Litera) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2004. Berjudul Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas.

"Akhirnya seoalah-olah karena mahasiswa tahun 2003 dan rektor 2004 publikasinya, seolah rektor plagiasi terhadap mahasiswa. Padahal rektor plagiasi karya rektor tahun 2002," jelasnya.

Oleh karenanya, Natsir pun menyebut dari pihak Anif sudah mengeluarkan klarifikasi. "Mahasiswa mencabut, mengatakan diri pada publik bukan penelitian saya. Saya orang Kudus. Sementara penelitian adalah Banyumas, itu adalah tempat pak Rektor lahir. Sehingga dalam hal ini tak ada masalah plagiat," tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, dugaan tindak plagiarisme oleh Rektor Unnes Fathur Rokhman naik ke permukaan usai seorang Guru Besar Unnes Salatri Wilonoyudho, Minggu (3/6) lalu pada akun Facebooknya memposting sebuah tulisan menyinggung tindakan plagiat yang haram dilakukan oleh sosok ilmuwan. Tulisan inilah yang kemudian memicu diadakannya sidang Majelis Profesor.

Meski pada postingan tersebut tak menyebut nama, dugaan bahwa tulisan tersebut diarahkan kepada Fathur Rokhman menguat usai Salatri pada sidang Majelis Profesor menunjukkan dua buah artikel ilmiah milik sang rektor dan mantan mahasiswinya, Anif Rida. Yang kemudian dimintanya kepada pihak kampus untuk membuktikan apakah dugaan penjiplakan benar atau tidak.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up