JawaPos Radar

Buka Bimbel Abal-abal, Guru Les Cabuli Dua Remaja Laki-Laki

11/07/2018, 21:03 WIB | Editor: Budi Warsito
Buka Bimbel Abal-abal, Guru Les Cabuli Dua Remaja Laki-Laki
Kanit PPA Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yeni saat memaparkan Muiz guru bimbel pelaku pencabulan. (Dida Tenola/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Predator anak punya beragam muslihat untuk melampiaskan hawa nafsunya. Mereka bisa berkedok sebagai seorang guru yang seolah-olah mengayomi muridnya.

Hal itulah yang dilakoni oleh Ulla Abdul Muiz, 34, warga Pakal Surabaya. Muiz, sapaan akrabnya, membuka bimbingan belajar (bimbel) di kawasan Benowo tanpa ada izin dari dinas terkait. Bimbel tersebut, adalah kedok baginya untuk mencabuli korban.

Parahnya, korbannya adalah sesama laki-laki. Dua remaja, sebut saja Riko, 16 dan Raka, 17 (keduanya nama samaran, red), menjadi pelampiasan nafsu Muiz. "Tersangka (Muiz) ini merepresntasikan dirinya sebagai orang terpelajar. Dia mengaku punya banyak gelar di kartu namanya, agar para siswa itu mau les di tempatnya," terang Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yeni, Rabu sore (11/7).

Buka Bimbel Abal-abal, Guru Les Cabuli Dua Remaja Laki-Laki
Kanit PPA Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yeni menunjukkan kartu nama palsu milik Muiz yang bertuliskan beragam gelar (Dida Tenola/JawaPos.com)

Berbekal gelar abal-abal itu, Muiz membuka bimbel. Ruth menuturkan, murid yang les di sana sebanyak 30 orang. Sementara perbuatan cabul itu sendiri, dilakukan Muiz pada Februari lalu. Selepas mengajar, Muiz meminta Riko dan Raka ke kamar belakang bimbel.

Di sana, Muiz menakut-nakuti korban bila mereka dibuntuti oleh makhluk halus. "Tersangka bilang kalau roh itu tidak segera diusir bisa mendatangkan kematian," imbuh Ruth.

Muiz kemudian meyakinkan dua murid laki-lakinya itu agar mau diobati. Syaratnya, mereka harus melalui ritual penyembuhan. "Dua korban disuruh berbaring dan harus menuruti perintah tersangka," lanjutnya.

Dari sinilah, Muiz melakukan ritual yang berujung pencabulan. Dalam posisi berbaring, pakaian kedua ABG itu dilucuti oleh Muiz. Tanpa sehelai benangpun, Riko dan Raka tidak bisa berbuat banyak lantaran mereka percaya bila itu adalah syarat jika ingin sembuh dari gangguan makhluk ghaib.

Dalam kondisi telanjang, kedua remaja itu menjadi sasaran kejahatan seksual. Muiz mengocok hingga melakukan seks oral terhadap Riko dan Raka. Tak cukup sampai di situ, tersangka juga melakukan mastrubasi. Perbuatan itu dilakukan hingga sekitar setengah jam. Muiz baru berhenti saat dirinya mencapai klimaks.

"Setelah selesai, para korban diminta untuk memakai pakaiannya kembali," ungkap Ruth.

Merasa menjadi korban, kedua remaja tersebut lantas melaporkan hal itu kepada orang tuanya. Laporan itu lantas diteruskan ke polisi. Setelah menggali keterangan korban, korps berseragam cokelatpun menangkap Muiz di bimbel miliknya. "Tersangka ini tidak mempunyai izin resmi untuk membuka LBB (Lembaga Bimbingan Belajar). Dalam waktu dekat kami akan melakukan penyegelan," tegas polisi asal Banyuwangi itu.

Sementara itu, Muiz yang terus menutupi wajahnya mengaku bahwa dirinya mengajar dua mata pelajaran di bimbel yang didirikannya. Yakni IPA dan Matematika. "Saya belajar otodidak," bebernya.

Untuk menjaring banyak murid, bimbel miliknya berani menjamin bila peserta didiknya bisa diterima di sekolah favorit. Biaya les berkisar Rp 2-3 juta. "Saya punya empat karyawan yang direkrut dari teman ke teman," sambungnya.

Saat ditanya orientasi seksualnya, Muiz bungkam. Namun, berdasar keterangan salah seorang penyidik yang tidak mau disebut namanya kepada JawaPos.com, Muiz melakukan perbuatan tercela itu karena sering menonton video porno bertema homoseksual. "Orientasi seksnya terinspirasi dari film-film gay itu," terangnya.

(did/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up