JawaPos Radar

BBRSBG Kartini Masuk Top 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik

11/06/2018, 19:04 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
BBRSBG Kartini Masuk Top 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik
Kegiatan di BBRSBG Kartini (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Memberikan pelayanan publik yang terbaik merupakan komitmen pada setiap satuan kerja (satker) Kementerian Sosial (Kemensos). Sekretaris Ditjen Rehabilitasi Sosial Kanya Eka Santi menyatakan, masuknya pelayanan publik Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) Kartini Temanggung dan Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Alyatama Jambi dalam Top 99 kompetisi inovasi pelayanan publik 2018 merupakan capaian yang sangat berharga.

"Dengan capaian ini menunjukkan bahwa kinerja UPT Kementerian Sosial semakin baik sehingga mampu bersaing dengan berbagai pelayanan yang diberikan oleh kementerian lainnya. Capaian tersebut ditunjukkan dengan pengakuan yang diberikan Kemenpan RB terhadap kinerja UPT Kementerian Sosial,” kata Kanya, Senin, (11/6).

Ditjen Rehsos sebagai center of excelence program rehabilitasi sosial memberikan penghargaan atas prestasi yang diraih sehingga mendorong peningkatan motivasi dan semangat berinovasi bagi semua unit pelayanan publik di lingkungan Kementerian Sosial. Penghargaan diberikan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi kepada Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) Kartini Temanggung sebagai TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik 2018.

"Salah satu program yang mendapat apresiasi tersebut adalah Sheltered Workshop (SW), yaitu program terobosan BBRSBG Kartini Temanggung berupa pemberian layanan di luar lembaga. SW Peduli merupakan salah satu upaya menciptakan wadah atau lembaga pendampingan, pelatihan dan kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas intelektual (PDI) dalam masyarakat," terang Kanya.

Kepala BBRSBG Kartini Temanggung, Murhardjani mengatakan, SW adalah rehabilitasi sosial berbasis komunitas yang mengedepankan peran dan partisipasi masyarakat serta stakeholders yang berada di masyarakat tempat PDI berada.

Program PDI diarahkan untuk menciptakan kemandirian melalui berbagai bimbingan oleh kelompok swadaya masyarakat melalui sejumlah kegiatan yang bernilai ekonomis produktif agar mereka memiliki penghasilan. "Melalui program ini, tidak ada lagi penyandang disabilitas yang hidup rentan, terabaikan, termarginalkan serta tidak berdaya," kata Murhardjani.

Upaya tersebut sebagai alternatif penyaluran kerja yang paling sesuai bagi penyandang disabilitas intelektual. Penyandang disabilitas intelektual masih berada dalam keluarganya tanpa menjadi beban karena memiliki penghasilan secara mandiri.

Program ini sudah berjalan sejak Tahun 2015 di 12 lokasi di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebelumnya, program ini bernama Kampung Peduli yang fokus terhadap pelaksanaan proses rehabilitasi sosial.

Sedangkan, program SW selain fokus pada pelaksanaan proses rehabilitasi sosial sesuai dengan tugas dan fungsinya. Saat ini juga memaksimalkan berbagai upaya produksi dan pemasaran barang yang bernilai ekonomis.

(met/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up