JawaPos Radar | Iklan Jitu

Konflik Keraton Solo Meruncing, Wiranto Diminta Turun Tangan

11 April 2018, 17:14:20 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Keraton Solo
KERATON SOLO: Ditutupnya akses keraton selama setahun terakhir mengancam rusaknya aset yang dimiliki Keraton Solo. (Ari Purnomo/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - G.K.R. Wandansari Koes Moertiyah atau yang biasa disapa Gusti Moeng meminta pemerintah pusat dalam hal ini Menko Polhukam, Wiranto untuk segera merampungkan konflik Keraton Kasunanan Surakarta. Pasalnya, konflik keturunan Kerajaan Mataram itu kembali memanas setelah akses masuk ke dalam keraton ditutup lebih kurang setahun yang lalu. 

"Bagaimana kebijakan pemerintah pasca setahun ini (keraton ditutup), kami inginnya kebersamaan tetapi tidak tercapai," katanya kepada JawaPos.com, Rabu (11/4).

Gusti Moeng mengatakan, bahwa sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menginstruksikan kepada Wiranto untuk segera merampungkan konflik keraton. Hanya saja, sampai saat ini belum ada upaya penyelesaian yang dilakukan oleh Menko Polhukam. 

Keraton pun tidak akan melayangkan surat ke Menko Polhukam agar segera mengambil sikap. Gusti Moeng mengungkapkan jika sebelumnya sudah ada deputi yang datang ke keraton dan berusaha untuk menemui raja Keraton Kasunanan Surakarta PB XIII, Sinuhun Hangabehi.

Hanya saja, upaya tersebut tidak berhasil. Karena deputi tidak bisa masuk ke dalam keraton karena pintunya dikunci dari dalam. "Ya tidak bisa masuk, wong pintunya saja dikunci dari dalam. Kemarin juga Paspampres juga datang ke sini pas Pak Jokowi liburan ke Solo, tetapi bilang tidak mungkin akan mampir ke keraton selama masih seperti ini (konflik)," ucapnya. 

Gusti Moeng hanya khawatir, jika konflik internal keraton tidak segera diselesaikan dampaknya akan semakin besar. Sekarang saja, semenjak akses masuk keraton ditutup, sejumlah aset berharga milik keraton terancam rusak.

Hal ini karena tidak adanya perawatan yang sudah biasa dilakukan. Dan jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin nantinya keraton tidak memiliki aset berharga lagi karena sudah rusak.

Sejumlah aset berharga yang seharusnya rutin dirawat seperti senjata, naskah dan juga wayang yang tentunya memiliki nilai yang sangat tinggi. "Saya saja tidak pernah diajak bicara (Sinuhun) apalagi masuk ke dalam keraton," tandasnya.

(apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up