alexametrics
Di Balik Anjloknya KRL Jatinegara - Bogor

Sulit Keluar karena Terjepit Ibu-Ibu

11 Maret 2019, 12:43:08 WIB

JawaPos.com – Hanifah, mahasiswi Institut Pertanian Bogor (IPB), menjadi korban dalam anjloknya KRL. Dari Jakarta, dia hendak pulang ke Depok. Saat peristiwa itu, dia duduk di gerbong depan, tepatnya belakang masinis. Ada sekitar 20 penumpang di dalam gerbong itu.

Dia merasakan detik-detik kereta itu limbung, terguling, hingga keluar dari jalur. ”Saya tak punya perasaan apa-apa. Perjalanan kereta awalnya juga baik-baik saja,” ungkap Hanifah kemarin (10/3).

Ketika KRL sampai di daerah Warung Jambu, dia merasakan kereta seperti berpindah-pindah jalur. Jalannya juga terasa mengambang. Sejurus kemudian, gerbong kereta miring ke kanan, kemudian banting ke arah kiri.

Sulit Keluar karena Terjepit Ibu-Ibu
Kondisi KRL Jatinegara - Bogor sebelum dievakuasi, Minggu (10/3). (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Kondisi itu mengakibatkan penumpang di dalam gerbong terpental-pental. Para penumpang begitu paniknya. Laju kereta baru terhenti setelah lokomotif kereta benar-benar terguling. Tiang-tiang listrik di dekat rel ambruk karena kabelnya tertimpa gerbong. ”Seluruh penumpang panik. Kereta tiba-tiba miring. Miring kanan 30 detik. Itu terasa sangat lama. Tidak lama pintu terbuka dan mesin kereta mati,” tuturnya.

Hanifah menyatakan, banyak penumpang yang takut saat akan keluar gerbong. Sebab, mereka harus melewati kabel listrik yang melintang. ”Kami semua tidak tahu apakah kabel itu masih teraliri setrum atau tidak,” katanya.

Setelah berusaha keras, Hanifah akhirnya berhasil keluar dari gerbong. Dia sempat sulit menyelamatkan diri. Tubuhnya terjepit penumpang lain. ”Jadi, saya ke pintu bener-bener nggak bisa jalan. Harus ngerayap karena di atas saya ada ibu-ibu,” ungkapnya.

Dia menyatakan, evakuasi masinis paling lama. Sebab, gerbong tertimpa tiang listrik. Masinis juga pingsan karena mengalami benturan keras.

Seluruh penumpang kereta akhirnya bisa dikeluarkan. Penumpang yang terluka dibawa ke rumah warga. Tak ada yang ke rumah sakit. Penumpang yang merasa baik-baik saja memilih melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum lainnya.

Hanifah memilih pergi ke Sta­siun Bogor dengan angkutan umum. Di sana dia menemui Tim Respon. Kemudian, petugas menyarankan untuk membatalkan perjalanannya. Padahal, Hanifah sudah menyampaikan kepada petugas bahwa dirinya adalah korban anjoknya kereta. Namun, petugas itu hanya meminta dia membatalkan perjalanan tanpa ada tindakan lebih lanjut.

Hanifah mengaku kini trauma. Dia berencana berkonsultasi ke psikolog. Sebab, ke depan dia masih akan menggunakan kereta api. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (ygi/c5/git)

Close Ads
Sulit Keluar karena Terjepit Ibu-Ibu