alexametrics

Cerita-cerita Sebelum KRL Anjlok: Lampu Mati, Oleng, lalu Terguling

Penyebab Kejadian Masih Ditelusuri
11 Maret 2019, 09:25:26 WIB

JawaPos.com – Kepanikan terjadi dalam gerbong kereta rel listrik (KRL) relasi Jatinegara-Bogor dengan nomor KA 1722 kemarin (10/3). Sekitar pukul 10.15, tiba-tiba gerbong oleng, lalu keluar rel. Tiga di antara delapan gerbong dalam rangkaian KRL tersebut anjlok dan terguling.

Insiden itu terjadi dalam perjalanan menuju Cilebut setelah kereta melewati Warung Jambu. Tepatnya di dekat pintu lintasan kereta Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Jarak dari lokasi kejadian hingga Stasiun Bogor sekitar 4,7 km.

Hingga pukul 22.30 tadi malam, dua di antara tiga gerbong yang anjlok sudah berhasil diangkat ke rel. Evakuasi satu gerbong lagi terhambat kabel dari tiang listrik yang menimpa gerbong. Sementara itu, lima gerbong yang tidak terguling telah selesai ditarik ke Stasiun Cilebut.

Cerita-cerita Sebelum KRL Anjlok: Lampu Mati, Oleng, lalu Terguling
KRL relasi Jatinegara-Bogor dengan nomor KA 1722 anjlok dan terguling di dekat pintu lintasan kereta Kebon Pedes, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Proses evakuasi cukup cepat lantaran kereta penolong bersama crane telah tiba di lokasi pukul 17.54. Kereta yang sudah bisa diangkat selanjutnya dibawa ke Stasiun Cilebut. “Diharapkan, besok (hari ini, Red) operasi KRL dapat kembali berjalan dengan normal,” ujar Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri.

Mengenai penyebab anjloknya kereta, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa hal itu masih diidentifikasi. Namun, dia meminta proses penyelidikan dilakukan dengan cepat untuk mengetahui dugaan awal.

Mantan direktur utama Angkasa Pura II tersebut kemarin juga meninjau lokasi anjloknya KRL KA 1722. Budi juga mengunjungi RS Salak untuk menemui korban. “Tadi (kemarin, Red) saya bicara dengan dokter Sarah (dokter RS Salak, Red). Dokter menyampaikan, tidak ada luka yang parah. Bahkan, sudah ada yang pulang,” jelasnya.

Saat kunjungannya itu, Budi belum bisa menemui masinis yang bernama Yakub Agung. Sebab, menurut keterangan yang dia peroleh, masinis masih mengalami trauma dan belum bisa diajak bicara.

Evakuasi Korban

Lili Septiani, seorang penumpang KRL yang nahas itu, menuturkan, anjloknya kereta begitu cepat. ”Enggak ada peringatan apa-apa. Tiba-tiba, kereta langsung terguling. Ketika itu semua orang merosot ke bawah. Saling tumpuk,” katanya.

Saat kejadian, Lili berada di gerbong paling depan. Berdekatan dengan masinis. Ada tiga gerbong yang terguling. Gerbong pertama, kedua, dan ketiga. Sebelum kereta terguling, warga Tangerang yang bekerja di Bogor itu awalnya berada di gerbong wanita bagian belakang. Lili memilih pindah ke gerbong wanita paling depan ketika kereta berhenti sementara di Stasiun Cilebut. Mayoritas penumpang melakukan itu agar tidak berjalan jauh ketika tiba di Stasiun Bogor.

”Sebelum anjlok, memang ada bunyi keras. Lalu, tiba-tiba lampu padam. Gerbong kereta kemudian miring ke kiri,” imbuhnya.

Dia kebetulan duduk di sisi kanan kereta. Lantaran tidak bisa menjaga keseimbangan, Lili dan penumpang di sebelahnya limbung dan terjatuh ke sisi kiri kereta.

Insiden anjloknya KRL nomor KA 1722 tersebut mengakibatkan sejumlah korban luka. VP Communication PT KCI Eva Chairunisa mengungkapkan, tercatat ada 19 korban. Kebanyakan korban mengalami luka ringan karena terkena benturan. “Tapi berangsur berkurang karena ada yang sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit,” terang Eva saat ditemui di lokasi kejadian.

Hingga pukul 19.00 WIB, tercatat ada dua pengguna jasa yang masih dalam perawatan di RS Salak Bogor dan RS Suyoto Bintaro. “Keduanya Lilis Septiani dan Shafa Mutia,” katanya.

Eva menjelaskan, selain evakuasi gerbong, pihaknya melakukan perbaikan prasarana perkeretaapian seperti jaringan kabel listrik aliran atas (LAA), jalur rel, dan penggantian tiang LAA. Perbaikan tersebut terus dikebut hingga tadi malam. ”Ditargetkan, perjalanan KRL dapat kembali normal pada Senin, 11 Maret 2019,” katanya.

Perbaikan tersebut otomatis mengganggu perjalanan KRL dari dan menuju Stasiun Bogor. Pengguna jasa KRL dilayani melalui Stasiun Bojong Gede. Sementara itu, perjalanan KRL dari arah Jakarta Kota atau Jatinegara hanya dapat dilakukan sampai dengan Stasiun Bojong Gede dan Depok sebagai stasiun pemberhentian akhir.

Terhambat Perlintasan Sebidang

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menuturkan, KRL merupakan moda transportasi penting bagi warga Jabodetabek. Bagi warga Bogor, KRL menjadi andalan menuju ibu kota. Akses Jakarta-Bogor merupakan rute terpadat dengan melewati 25 stasiun. Rata-rata rute tersebut mengangkut 206.153 orang per hari. ”Artinya, mitigasi harus segera diselesaikan PT KAI dan PT KCI selaku operator. Saya yakin kalau hanya insiden seperti ini biasanya semalam bisa selesai dan besok sudah bisa digunakan,” ujar Djoko.

Dia menyebut ekspektasi masyarakat terhadap KRL sangat tinggi. Sebab, KRL menjadi satu-satunya moda transportasi yang menjangkau hampir seluruh Jabodetabek. Karena itu, harus ada peningkatan jumlah dan kecepatan perjalanan.

Namun, hal itu sulit terwujud jika masih banyak perlintasan sebidang di sepanjang rel. ”Kalau itu bisa ditutup, kapasitas angkut bisa meningkat. Dari semula 10 menit sekali bisa 3 menit sekali,” terang pria yang merupakan anggota Masyarakat Transportasi Indonesia tersebut.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (ygi/lyn/gal/han/c9/c19/c5/fal)

Cerita-cerita Sebelum KRL Anjlok: Lampu Mati, Oleng, lalu Terguling