alexametrics

Tarif Bagasi Diyakini Berdampak Kepada UKM

11 Januari 2019, 20:08:13 WIB

JawaPos.com – Penghapusan layanan bagasi gratis diyakini akan menimbulkan efek domino yang sangat panjang. Salah satunya berpengaruh terhadap pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kota Malang.

Seperti diketahui, sejumlah maskapai mulai memberlakukan bagasi berbayar bagi penumpang dengan rute domestik. Kebijakan itu awalnya diberlakukan Maskapai Lion Air. Kemudian kebijakan serupa diikuti maskapai Citilink.

Ketua Asociation Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Malang Raya Gagoek Soenar Prawito mengatakan, pembatasan bagasi akan sangat berpengaruh kepada pelaku UKM. “Karena dari sisi kami di Malang, untuk membeli oleh-oleh menjadi berkurang. Sehingga itu sebetulnya akan mempengaruhi kondisi UKM-UKM di Malang juga,” ujar Gagoek kepada JawaPos.com, Jumat (11/1).

Tidak menutup kemungkinan wisatawan yang datang ke Malang akan mengurangi membeli oleh-oleh. “Misalkan orang yang biasanya beli satu kardus (oleh-oleh) beratnya misal 10-15 kg, ya nanti sangat berkurang. Mereka (wisatawan) pasti tidak akan membeli oleh-oleh yang banyak,” terang Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Kota Malang itu.

Selain pelaku UKM, kebijakan ini juga lama-kelamaan akan berimbas kepada pengusaha-pengusaha domestik yang selama ini hidup dan berkembang dari bisnis pariwisata. “Pasti akan kena imbasnya,” tegas Gagoek.

Untuk itu, penerapan tarif bagasi harus dibicarakan bersama-sama terlebih dahulu. Tidak bisa diputuskan dari pihak penerbangan dan Departemen Perhubungan saja. Berbagai pihak harus dilibatkan. Mulai dari Dinas Perdagangan, Dinas Pariwisata dan sebagainya.

“Itu yang menurut saya tidak bisa diputuskan secara sepihak. Sementara kami dari asosiasi pariwisata sebenarnya jadi mitra penerbangan kan sudah berpuluh-puluh tahun. Tiba-tiba ada kebijakan seperti ini,” lanjut.

Dia mengungkapkan, kebijakan ini hanya menguntungkan pihak-pihak penerbangan saja. Oleh karena itu, pihaknya akan mencoba untuk berkomunikasi dengan pihak penerbangan terkait kebijakan ini.

“Kami akan berusaha mediasi dengan penerbangan, nanti strategi kedepan apa. Apakah ini hanya sesaat karena kondisi ekonomi, atau memang berkelanjutan. Kalau berkelanjutan kan kita harus mengambil sikap,” terangnya.

Bila tarif bagasi diberlakukan secara berkelanjutan, hal ini sama saja dengan bunuh diri. Artinya, wisatawan bisa saja lebih memilih untuk berwisata ke luar negeri yang biaya pesawatnya lebih murah dan tanpa ditarik biaya bagasi.

“Mereka lebih enjoy wisata luar negeri karena tidak mengenakkan kondisi seperti itu. Wisata kan yang mempengaruhi penerbangan. Akhirnya (milih) penerbangan luar negeri,” pungkas Gagoek.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : Fiska Tanjung

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Tarif Bagasi Diyakini Berdampak Kepada UKM