alexametrics

SDN Sumberrejo 05 Rusak, Siswa Pindah Belajar di Tempat Parkir Sekolah

10 Desember 2019, 15:48:54 WIB

JawaPos.com – Kayu bekas kusen pintu dan jendela terserak begitu saja. Kayu-kayu yang penuh lubang itu tergeletak tak jauh dari bangunan kelas yang tak lagi terpakai. Tak jauh dari lokasi, terlihat sebuah gambar bangunan sekolah yang rusak. Di dalamnya tertulis, ”Kapan sekolahku dibangun?”

Gambar sederhana yang disertai tulisan tersebut rupanya adalah curahan hati siswa SDN Sumberrejo 05, Kecamatan Ambulu. Sudah empat tahun terakhir bangunan sekolah mereka tak layak ditempati karena rusak.

”Gambar dan tulisan ini inisiatif siswa sendiri. Tidak ada guru yang menyuruh menggambar bangunan sekolah yang sudah lama rusak itu,” kata Muhammad Samsul Hadi, kepala SDN Sumberrejo 05.

Akibat kondisi bangunan sekolah yang demikian, ungkap Samsul, 148 siswa di sekolah tersebut harus mengikuti ujian semester di tempat yang tak layak. Bahkan, ada yang terpaksa menempuh ujian di lokasi darurat. Sebanyak 19 siswa kelas II mengerjakan soal di tempat parkir yang diubah menjadi ruang kelas.

Para guru memanfaatkan selembar gorden sepanjang 3 meter untuk menutupi tempat parkir agar menyerupai kelas. Itu juga dilakukan supaya siswa yang tengah ujian tak terlihat dari luar. Sementara di seberang gorden beberapa motor juga terlihat terparkir di situ. ”Gorden sengaja dipasang agar anak-anak tetap fokus ujian,” ujar Wiwin, guru kelas II.

Kondisi tersebut berdampak terhadap siswa. Azza, siswa kelas II, mengaku tak bisa berkonsentrasi ketika mengerjakan soal. Terlebih saat siswa kelas lain mulai keluar kelas. ”Ramai sekali. Kami tidak konsentrasi. Apalagi ketika mereka mendekat ke ruang kelas yang terbuka ini,” cetusnya.

Bukan hanya kelas II yang menempati ruang belajar darurat. Siswa kelas IV yang berjumlah 26 anak mengalami hal serupa. Mereka bahkan menempati bangunan yang sebelumnya difungsikan sebagai gudang.

Kondisinya pun benar-benar jadi tidak layak dan pengap. Temboknya retak di mana-mana. Bukan hanya itu, penerangan juga minim. Guru kelas yang menjaga ujian tampak mengawasi anak didiknya dari lorong gudang.

Kondisi kelas III tak jauh berbeda. Sebanyak 25 siswa menempati ruang perpustakaan. Bisa dibayangkan betapa sempitnya bila 25 siswa menempati perpustakaan yang ukurannya tak begitu luas. Para siswa terpaksa berbagi tempat duduk. Bahkan, jika keluar kelas, mereka harus melangkahi teman lain. ”Apalagi, ruang perpustakaan tersebut juga digunakan sebagai gudang untuk menyimpan alat-alat drum band milik sekolah,” ujar Samsul.

Menurut dia, kondisi itu terjadi sejak empat tahun lalu. Mulai saat itu empat ruang kelas tersebut rusak berat.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : jum/rus/c9/diq


Close Ads