JawaPos Radar

Tempat Selfie Asyik Itu Diblokir Warga

10/12/2017, 00:00 WIB | Editor: Muhammad Syadri
Tempat Selfie Asyik Itu Diblokir Warga
Jalan masuk ke lokasi wisata Benteng Otanaha yang diblokade warga (Gorontalo Post/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Pengunjung objek wisata Benteng Otanaha saat ini sudah tak bisa menikmati lagi pemandangan indah apalagi berfoto selfie di lokasi wisata yang bersejarah tersebut.

Pasalnya, saat ini jalan menuju ke lokasi objek wisata itu sudah tak bisa dilalui lagi. Ini disebabkan jalan tersebut telah diblokir oleh masyarakat yang mengklaim belum menerima pembayaran dari pemerintah terkait lahan milik masyarakat setempat.

Pantauan Gorontalo Post (Jawa Pos Group), lokasi menuju ke Benteng Otanaha bukan hanya di blokir dengan menggunakan batu atau kayu saja, melainkan dicor dengan beton seperti pondasi untuk membangun rumah. Akibatnya, kendaraan sama sekali tidak bisa melalui jalan untuk menuju ke puncak benteng.

Supardi Usman, warga Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo ketika diwawancarai menjelaskan, pada saat pembukaan jalan ini, sudah terjadi kesepakatan untuk pembayaran yang akan dilakukan pada 2017 ini.

Oleh karena itu, pemerintah meminta agar segala administrasi dilengkapi. Namun, hingga Desember ini, hanya ada janji-janji saja, sehingga para ahli waris menuntut hal tersebut dan memagar sementara sambil menunggu kejelasan terkait dengan kondisi ini.

“Ini dijanjikan oleh pihak Dinas Pekerjaan Umum (PU) pada saat rapat bersama. Namun hingga kini belum ada kejelasannya,” ujarnya. Ditambahkan pula, ketika semua administasi dilengkapi, pemerintah kelurahan tidak mau menandatangani surat yang telah dilengkapi.

Hal tersebut dikarenakan ada pihak lain yang mengaku bahwa itu adalah tanah milik mereka. Padahal kata Supardi Usman, mereka memiliki surat yang jelas sejak 1978 silam dan berbagai kekurangan yang telah diminta oleh pemerintah kelurahan sudah dilengkapi semuanya.

“Luasnya kami tidak tahu, hanya batas-batasnya saja. Oleh karena itu, kami pun masih menunggu kapan akan dilakukan penyelesaian dan juga berapa pembayarannya. Kami sendiri diminta oleh pemerintah kota untuk membuat surat pengaduan terkait dengan persoalan lahan ini,” jelasnya.

Disisi lain kata Supardi Usman, di lahan milik mereka telah ditanami pohon oleh Dinas Kehutanan, dimana pohon tersebut akan menjadi lokasi percontohan kawasan oleh Dinas Kehutanan.

Namun ini menjadi polemic, karena dari Dinas Pariwisata, telah dilakukan penebangan dan telah ada kurang lebih 32 pohon yang telah ditebang.

“Kami sudah menghentikan mereka yang melakukan penebangan pohon ini. Oleh karena itu, kami berharap agar pemerintah bisa menghadirkan semua pihak, agar ada kejelasan dan tidak tumpang tindih seperti ini,” pungkasnya.

(sad/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up