alexametrics

Insiden di Surabaya Membara, Masinis Kereta Sudah Turunkan Kecepatan

Pemprov dan Pemkot: Itu Bukan Acara Kami
10 November 2018, 10:19:08 WIB

JawaPos.com – Puluhan orang itu berebut memilih naik ke viaduk. Tujuannya, bisa mendapatkan tempat yang enak untuk menonton pertunjukan drama kolosal bertajuk Surabaya Membara di Tugu Pahlawan, Surabaya.

Sebab, di bawah penonton sudah berjubel. Tapi, drama belum lagi mulai, musibah menimpa. Ketika Kereta Rel Diesel melintas sekitar pukul 19.45, para penonton yang di viaduk berusaha menghindari gerbong kereta dengan merapatkan tubuh ke dinding viaduk.

KRD tersebut sebenarnya melaju pelan karena tahu ada banyak bergerombol di sekitar rel yang ada di viaduk. Klakson juga telah dibunyikan.

Namun, karena jumlah penonton yang ada di viaduk cukup banyak, desak-desakan tak terhindarkan. Saling dorong terjadi. Buntutnya Beberapa orang tak mampu menjaga keseimbangan dan terjatuh dari viaduk yang tingginya sekitar 6 meter dari tanah.

Dari tiga korban yang meninggal, baru satu yang berhasil teridentifikasi. Dia adalah Erikawati, bocah perempuan berusia 9 tahun yang tinggal di Kalimas Barat No 61, Surabaya. Dia meninggal setelah terjatuh dari viaduk.

Satu korban tewas lainnya juga karena terjatuh. Sedangkan satu lainnya tewas karena terjatuh ke lintasan saat berdesakan. Mereka dibawa ke tiga rumah sakit (RS) terdekat. Yakni, RS PHC, RSUD dr Soewandhie, dan RSUD dr Soetomo.

Taufik Monyong, sutradara dan penanggung jawab acara bertema Gubernur Suryo yang dihelat dalam rangka Hari Pahlawan itu, mengaku kalau pihaknya sudah mencoba melakukan pengamanan dari berbagai lini. “Kalau yang di viaduk, itu sudah diluar kekuasaan kami. Kami sudah mengingatkan berkali-kali untuk turun,” ujarnya.

Taufik memperkirakan setidaknya 20 ribu orang menyaksikan pertunjukan yang digagas komunitas seni itu tadi malam. Mereka tersebar di berbagai titik. Mulai dari depan panggung hingga ke atas viaduk.

Sementara itu, Kepala Bagian Protokol Humas Pemprov Jatim Aries Agung Paewai menyatakan, acara tersebut bukan kegiatan pemprov. Karena itu, dia tidak tahu bagaimana proses perencanaan, penataan acara, penempatan penonoton atau apa saja konten yang disajikan di dalam pertunjukan itu.

“Yang kami tahu acara ini diprakarsai para seniman,” ungkapnya saat dihubungi Jawa Pos tadi malam.

Meski begitu, atas nama pemprov, Aries menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan keluarganya. Dia berharap, insiden seperti ini tidak terulang lagi.

Dikonformasi terpisah, Kabaghumas Pemkot Surabaya M. Fikser menyebutkan hal yang sama dengan Aries. Dia mengatakan, acara itu bukan agenda pemkot. “Kalau acara pemkot besok pagi, parade juang,” katanya.

Wali Kota Tri Rismaharini belum memberikan komentar langsung. Namun kepada Fikser, Risma mengatakan jika acara tersebut tidak mendapat izin maupun koordinasi dari pemkot. Bahkan pihak panitia tidak pernah menggelar rapat bersama pemkot.

“Kegiatan tahun sebelumnya tak bersama kita,” kata Fikser.

Kapolrestabes Surabaya Kombespol Rudi Setiawan tadi malam langsung meninjau para korban di RSUD dr Soetomo. Dia lantas memerintah tim Inafis untuk melakukan identifikasi kepada para korban. “Buat ngecek sidik jari,” ucapnya.

Polisi dengan tiga melati di pundak itu mengaku pihaknya bakal menyelidiki kasus ini. Polrestabes sudah meminta keterangan sejumlah saksi. Mulai dari warga, petugas keamanan dan penyelenggara.

Sementara itu, Humas PT KAI (Persero) Daop 8 Gatut Sutiyatmoko mengatakan, viaduk itu merupakan jalur hidup. Setiap hari, kereta dari stasiun dari Gubeng menuju Stasiun Pasarturi atau sebaliknya. Kereta KRD yang melintas tadi malam itu berasal dari Sidoarjo menuju Stasiun Pasar Turi. “Perjalanannya sudah sesuai jadwal yang ada,” katanya.

Dia juga mengatakan, masinis sudah memberi tolerensi kecepatan. Normalnya, saat melintas jalur viaduk, kecepatan kereta 30 hingga 40 kilometer per jam. Tadi malam, kecepatan kereta hanya 10 hingga 15 kilometer per jam. “Sangat pelan,” jelasnya. Selain itu, masinis juga telah melaksanakan Semboyan 35 alias membunyikan klakson.

Gatut menegaskan, PT KAI Daop 8 tidak tahu-menahu tentang acara tersebut. Perusahaan pelat merah itu juga tidak menerima pemberitahuan atau pengajuan izin tentang acara Surabaya Membara.

Kalau ada izin, kata dia, PT KAI (Persero) akan menyampaikan informasi itu kepada masinis. “Kami tidak bisa berbuat apa pun terkait hal itu,” ucapnya.

Dia mengingatkan bahwa jalur manfaat kereta api tidak boleh diganggu. Aturan itu tertuang pada UU 23/2007, pasal 181 ayat 1 (a). Siapa pun tidak diperbolehkan berada di ruang manfaat itu. Idealnya, panitia mengingatkan pengunjung untuk tidak berada di viaduk.

Sementara itu, insiden yang mewarnai perhelatan akbar Surabaya Membara bertambah panjang. MC dengan nada panik menyatakan ada 25 anak yang kesurupan seusai acara resmi berakhir. Mereka digotong menuju koridor teras Kantor Gubernur Jawa Timur.

Teriakan terdengar dari berbagai sisi. Tim medis dari RSUD dr Soetomo bergegas melakukan pertolongan pertama. Salah satunya kepada Grace Astuti. Siswi SMK 4 Kranggan tersebut mengalami kejang, sesak napas, dan berteriak tak keruan.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (sal/mir/via/dan/yon/ttg)

Insiden di Surabaya Membara, Masinis Kereta Sudah Turunkan Kecepatan