alexametrics

Fakta Baru Terungkap di Persidangan Pembunuhan Sadis Binti Nafiah

10 Oktober 2019, 16:31:33 WIB

JawaPos.com – Ada fakta baru yang muncul dalam lanjutan sidang kasus pembunuhan Binti Nafiah kemarin (8/10). Warga Desa Canggu, Kecamatan Badas itu tewas setelah dipukul dengan kayu. Padahal, selama ini pelaku mengaku memukul korban dengan linggis. Linggis itupula yang kini jadi salah satu barang bukti yang disita polisi dari terdakwa.

Informasi tentang alat pemukul yang digunkan oleh terdakwa Sugeng Riyadi, 40, itu disebutkan oleh dr Bambang Widiyatmoko, dokter forensik Polda Jatim. Bambang dihadirkan oleh penasihat hukum terdakwa sebagai saksi meringankan.

“Dari pengalaman saya, penyebab luka seperti itu disebabkan (dipukul) kayu,” terang Bambang di depan majelis hakim seperti dikutip Jawa Pos Radar Kediri.

Di ruang Candra, PN Kabupaten Kediri, tempat berlangsungnya sidang, saksi sempat melakukan reka ulang. Dengan dibantu oleh JPU Ichwan Kabalmay dan seorang polisi, mereka memeragakan adegan pemukulan itu.

Beberapa adegan yang diperagakan merupakan cara terdakwa Sugeng Riyadi melakukan pemukulan kepada Binti. Awalnya Ichwan menanyakan apakah senjata linggis mampu membuat luka seperti hasil visum? Bambang kemudian membenarkannya. Namun, dia menambahkan, luka hasil pemukulan dengan linggis tersebut seharusnya jauh lebih parah.

Dari hasil visum yang dilakukan pada Juni 2018 itu luka berbentuk lubang itu merupakan luka oleh benda tumpul. Dari pengalaman Bambang, benda yang menyebabkan luka tersebut terbuat dari balok kayu.

“Jika menggunakan besi tidak hanya menyebabkan retak pada tulang namun juga lebih dalam lukanya,” jelasnya.

Sementara dari luka yang ditemukan, dua luka di bagian kepala dan satu pada bagian leher. Karena luka tersebut kemudian terjadi pendarahan. Kemudian menyebabkan tekanan darah ke jantung.

Dalam persidangan tersebut Bambang juga memperlihatkan beberapa foto ketika proses visum dilakukan. Salah satunya foto luka di bagian kepala dan leher. Foto-foto itu tidak hanya menunjukkan pemeriksaan dari luar namun juga bagian dalam.

Dari hasil visum tersebut juga ditemukan luka lebam di bagian punggung Binti. Bambang menerangkan tidak menemukan tanda-tanda adanya perlawanan oleh korban.

Salah seorang anggota penasihat hukum terdakwa sempat menanyakan waktu otopsi tersebut. Yang menurut Bambang dilakukan di RS Bhayangkara Kediri pada Juni 2018. Mayat Binti sempat disimpan di lemari pendingin karena saat itu dia masih berada di Surabaya.

“Jam berapa Binti meninggal?” tanya Ketua Majelis Hakim Agus Tjahjo Mahendra. Karena jenazah Binti saat itu sudah dimasukan ke dalam pendingin, Bambang mengaku tak bisa menentukan waktu kematian.

Kasus pembunuhan tersebut terjadi 9 Juni 2018. Yang menjadi terdakwa adalah Sugeng Riyadi, warga Dusun Pulosari, Kelurahan/Kecamatan Pare. Selain menghilangkan nyawa korbannya Sugeng juga dituding mengambil barang-barang milik korban.

Akibat perbuatan itu JPU memasang pasal primer 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Kemudian melapisi dengan pasal subsidair 338 KUHP tentang pembunuhan. Dan lebih subsidair yaitu pasal 365 Ayat (2) (3) (4) KUHP.

Editor : Mohamad Nur Asikin



Close Ads