alexametrics

Dua Pekerja Terjebak dalam Runtuhan Plengsengan Rumah Sakit

10 Oktober 2019, 13:40:22 WIB

JawaPos.com – Wajah Suwito Budi Santoso tampak lemas, tapi masih sadar. Masih bisa berkomunikasi dengan petugas.

Makanan dan minuman dari petugas juga masih bisa diasupnya. Meski, di saat yang sama, badan pekerja proyek tersebut tertimbun material talut yang ambruk.

Tumitnya tersangkut gagang cangkul. ”Pertimbangannya, kalau kami memindahkan material untuk membebaskan tumit yang tersangkut itu, risikonya, justru malah akan tertimbun material yang lain,” kata Safety Officer SAR Daerah Istimewa Jogjakarta Kurniawan Adi Wibowo kepada Jawa Pos Radar Jogja.

Kemarin (9/10) Santoso bersama lima pekerja lain tengah bekerja di proyek penguatan talut (dinding penahan tanah/plengsengan) di RSUD Sleman, Jogjakarta. Talut itu setinggi 3 meter.

Menurut Wahyu, salah seorang pekerja, mereka terbagi ke dalam dua tugas. Tiga pekerja menggarap pemasangan besi. Tiga lainnya, termasuk Wahyu, mengerjakan galian.

Sebelum talut runtuh, Wahyu rehat sejenak untuk pergi membeli rokok. Tak lama berselang, pukul 10.16, talut yang berada di sisi timur runtuh dan menimpa dua pekerja. Keduanya adalah Santoso, 46, asal Jetis, Caturharjo, Sleman, dan Suradal, 60, warga Bener, Tegalrejo, Jogjakarta.

”Sebelum talut tersebut runtuh, sudah terdapat retakan,” bebernya.

Suradal tertimpa material talut sampai batas paha. Butuh waktu singkat untuk mengevakuasinya. ”Sepuluh menit sudah bisa dievakuasi,” ujar Wahyu.

Namun, tidak demikian halnya dengan Santoso. Dia tertimpa material hingga punggung dan membuatnya terjebak selama lebih dari 2 jam.

Santoso baru bisa dievakuasi pukul 12.49. Setelah petugas gabungan dari Basarnas, SAR DIJ, TRC BPBD, polisi, TNI, dan relawan berhasil menyingkirkan bongkahan batu yang menimpa korban.

Dari pemantauan Jawa Pos Radar Jogja, Suradal mengalami luka di dada dan lambung. Sedangkan Santoso mengalami luka terbuka di telapak kaki kiri karena terjepit batu dan kayu.

Sementara itu, Plt Direktur RSUD Sleman Joko Hastaryo menyatakan, pekerjaan penguatan talut itu sudah berlangsung dua minggu. Targetnya, Desember nanti bisa selesai. ”Namun, karena adanya kecelakaan seperti ini, kami akan lakukan evaluasi,” tegasnya.

Talut lama dibangun pada 2014. Menurut Joko, ketebalan talut lama sudah ideal. Runtuhnya talut itu, menurut dia, bukan disebabkan kualitas material talut yang lama. ”Tapi, mungkin bangunan ke bawahnya yang perlu kita (perkuat).”

Mengenai biaya pengobatan korban, dia menyatakan, pihak rekananlah yang lebih dulu menanggung biaya pengobatan. Sebab, para pekerja bekerja untuk rekanan. Walaupun proyek tersebut milik RSUD Sleman.

Joko memastikan, jika kedua korban belum dilindungi jaminan kesehatan, rumah sakit siap membantu. ”Prinsipnya, kami kemanusiaan,” ujarnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : har/c5/ttg



Close Ads