alexametrics

Irigasi Kabut untuk Lahan Pasir di Desa Srigading

10 September 2019, 09:18:22 WIB

SEJAK 2015, petani di Desa Srigading, Kabupaten Sanden, Jogjakarta, terus mencoba agar tanaman bisa tumbuh di lahan pasir sekitar pantai. Awalnya mereka menggunakan mulsa plastik penutup tanaman untuk menjaga kelembapan, tetapi gagal.

Lalu, mereka mencoba lagi dengan memakai keran penyemprot air (sprinkler), tetapi juga gagal. Selain sulit mendapatkan air bersih, terpaan angin laut yang kencang membuat petani kesulitan dalam melakukan penyiraman. Padahal, lahan pasir di pesisir Srigading merupakan lahan marginal yang sebenarnya memiliki potensi tinggi dalam pengembangan pertanian.

Hingga akhirnya, muncul inovasi membuat irigasi kabut untuk lahan pasir. Sistem itu dinilai lebih efisien, efektif, ramah lingkungan, serta modal yang dikeluarkan tidak terlalu besar.”Kami memanfaatkan kabut alami untuk mengusir hama tanpa harus membunuh. Dengan begitu, ekosistem tetap terjaga dan tidak menggunakan kimia dalam proses tumbuhnya tanaman,” ujar Ketua Kelompok Tani Desa Srigading Sumarna.

Penelitian irigasi kabut untuk lahan pasir dimulai pada 2010. Saat ini inovasi itu telah ditularkan ke beberapa desadi Kalimantan, NTB, Banten, Sulawesi, hingga Papua. Berkat irigasi kabut, hasil panen bawang merah bisa menjadi 7–9,4 ton per hektare dari sebelumnya hanya 2,5–4 ton per hektare. ’’Ini menjadi perhatian beberapa ahli dari Jerman dan kampus negeri di Indonesia,” sebutnya.

Selain mempunyai program inovasi desa (PID) irigasi kabut dan bertani di tanah pasir, Desa Srigading mengelola tempat rekreasi Taman Bunga Matahari atau Taman Pertanian Insab serta beberapa pantai yang indah. ’’Wisata di desa kami menambah pendapatan asli desa (PAD) dan kabupaten karena dikunjungi wisatawan domestik dan asing dari berbagai negara seperti Malaysia dan Korea,” jelasnya.

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : ARM



Close Ads