Kisah Yayasan Rumah Singgah Peduli Surabaya

Tempat Berteduh Gratis Bagi Pasien Tidak Mampu

10/09/2018, 06:15 WIB | Editor: Dida Tenola
Rosi atau Bunda Angeline (tengah) dan putrinya Angeline Virginia Wong (kiri) saat mengobrol dengan salah satu pasien penghuni rumah singgah (Aryo Mahendro/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Yayasan Rumah Singgah Peduli telah banyak membantu keluarga tidak mampu. Di Surabaya, sebuah rumah di Jalan Kedung Tarukan 76, Tambak Sari, disulap jadi tempat berteduh orang-orang asal luar kota yang berobat di RSUD dr. Soetomo. Mereka yang menginap di sana sama sekali tidak dipungut biaya, alias gratis

 

Rumah singgah gratis bagi pasien tidak mampu yang berada di Jalan Kedung Tarukan 76, Surabaya (Aryo Mahendro/ JawaPos.com)

Aryo Mahendro- Surabaya

Sekilas dari luar, rumah tipe 45 itu tak ubahnya seperti hunian lainnya. Rumah itu berlantai dua. Di lantai dasar ada sebuah ruang tamu yang terhubung dengan lorong. Lorong tersebut mengarah ke tiga kamar di sisi kanan, dapur, dan kamar mandi. Di ujungnya ada tangga yang mengarah ke lantai dua.

Saat menapaki anak tangga tersebut, langsung terlihat tumpukan pakaian dan kawat jemuran yang membentang di lantai dua. Satu ruang di lantai dua memang berfungsi sebagai ruangan mencuci.

Selain rungan mencuci, di lantai dua juga terdapat tiga kamar pasien. Ukuran kamar itu kira-kira sekitar 3x3 meter persegi. Satu kamar, bisa untuk menampung empat orang pasien dan dua anggota keluarga pendamping.

Saat mengunjungi rumah singgah tersebut, Minggu (9/9) siang, JawaPos.com ditemani oleh Rosi. Rosi adalah penanggung jawab rumah itu. Dia tidak mau namanya ditulis lengkap. Rosi meminta kepada JawaPos.com untuk memanggilnya dengan sapaan akrab para tamu kepadanya, yakni Bunda Angeline. Sapaan itu disematkan karena putri Rosi bernama Angeline.

Bunda Angeline menceritakan, kamar-kamar tersebut mempunyai fasilitas penunjang bagi para pasien rawat jalan yang berasal dari luar kota. Sebut saja tabung oksigen dan kursi roda. "Kalau fasilitas seperti obat-obatan juga ada. Tapi hanya obat umum yang biasa ditemui di rumah. Kalau alat kesehatan seperti infus, kami tidak punya, karena kami bukan dokter," tutur bunda Angeline.

Selain menyediakan fasilitas, ada tiga orang penanggungjawab dan kooordinator rumah singgah yang siaga 24 jam. Mereka bertugas melaporkan semua aktivitas di dalam rumah. Termasuk berkoordinasi dengan pihak rumah sakit jika ada pasien yang mendadak dalam kondisi gawat darurat.

Jika kondisi darurat terjadi, mereka akan menghubungi ambulan atau transportasi umum lainnya. "Sering kami dilapori ada pasien yang mendadak gawat darurat saat tengah malam. Penanggungjawab yang siaga menelpon saya, lalu pesen taksi online. Kami antar sampai masuk ke rumah sakit," tambahnya.

Ada sejumlah prosedur dan kriteria pasien yang boleh singgah. Mereka yang boleh tinggal di sana adalah yang berstatus rawat jalan. Selain itu, pasien harus terdaftar BPJS Kesehatan golongan III. Pasien juga dapat menyertakan surat keterangan tidak mampu bila ada. "Dokter yang merekomendasikan dan menghubungi kami jika ada pasien rawat jalan yang akan singgah. Setelah itu, pasien sendiri yang mendatangi rumah ini," terang Bunda Angeline.

Berdasarkan jenis penyakitnya, pasien yang menderita penyakit menular atau dengan luka terbuka dan berbau tidak diperkenankan tinggal di rumah singgah itu. "Pasien dengan kondisi tertentu, misalnya lanjut usia, harus didampingi lebih dari satu pendamping. Termasuk pasien anak," katanya.

Lalu, bagaimana dengan kehidupan sehari-hari pasien dan keluarganya? Untuk biaya makan, rumah itu menyediakan peralatan dapur, beras dan minyak goreng. Selain itu, kebutuhan makan sehari-hari dipenuhi pasien dan keluarganya secara kolektif. Tiap keluarga pasien patungan Rp 5 ribu per hari untuk kebutuhan makan semua penghuni rumah. "Keluarga pasien sendiri yang belanja di pasar dekat sini dari uang hasil patungan tiap hari. Memang belum ada donatur yang berani menanggung semua biaya hidup pasien dan keluarganya," tutur Bunda Angeline.

Selain itu, ada juga aturan yang diterapkan bagi pihak luar. Tidak semua orang boleh sembarangan masuk, apalagi berfoto di dalam rumah jika bukan pasien rawat jalan atau keluarga.

Bahkan sebelum bertemu dengan Bunda Angeline, JawaPos.com tidak diperkenankan untuk mengambil gambar. Kesannya seperti hotel bintang lima yang punya sistem keamanan ketat.

Aturan itu diberlakukan bukan tanpa alasan. Suatu hari, pernah ada seseorang yang berpura-pura baik dan bersimpati kepada pasien yang menginap di rumah itu. Dia juga sempat mengambil beberapa foto pasien dan keluarganya.

Rupanya, foto itu dimanfaatkan untuk membuka donasi fiktif via media sosial. Uang donasi itu tidak pernah sampai ke Yayasan Rumah Singgah Peduli. "Oknum itu mengupload fotonya di media sosial. Dia membuka dan mengambil uang donasi yang terkumpul untuk kepentingan pribadi," lanjut Bunda Angeline.

Bunda Angeline mengontrak rumah itu sejak Desember tahun lalu. Nilai kontraknya mencapai Rp 32,5 per tahun.

Ada satu cerita haru sekaligus bangga dibalik proses Angeline mengontrak rumah itu. Uang yang dibayarkan bukan dari kantong pribadinya. Melainkan uang milik putrinya yang masih duduk di bangku kelas 5 SD. Nama lengkapnya Angeline Virginia Wong.

Angeline Virginia memang salah satu anak dengan segudang bakat. Sejak berusia tiga tahun dia aktif mengikuti berbagai macam perlombaan, mulai pelajaran di sekolah sampai menyanyi.

Dari bakat menyanyinya itu, Angeline punya satu album yang diciptakannya sendiri. Album yang terdiri dari 10 lagu religi itu dijual ke sejumlah jemaat gereja di Kota Pahlawan.

Uang hasil menang lomba dan pejualan album itu diberikan kepada sang ibunda. "Angeline bilang, mama mau ngasih uang berapa buat hadiah ulang tahunku. Gimana kalau uangnya yang buat aku dibelikan rumah. Namanya anak-anak kan mintanya lucu-lucu ya," kenangnya.

Bunda Angeline menuturkan, jiwa sosial putrinya sudah terlihat sejak kecil. Ide mengontrak rumah itu terinspirasi saat menjenguk salah seorang pasien di RSUD dr. Soetomo.

Angeline Virginia tergugah hatinya. Dia melihat banyak keluarga pasien yang tidur di selasar dan lorong rumah sakit hanya beralaskan tikar. Oleh sebab itu, Angeline berharap rumah yang dikontraknya nanti dapat membantu pasien di RSUD dr. Soetomo yang tidak mampu. "Angeline bilang, mama hadiah ulang tahunku disumbangkan saja untuk orang yang membutuhkan. Jadi pas ulang tahun ke-10, Angeline malah minta rumah. Katanya, buat bantu pasien di RSUD dr. Soetomo," tuturnya. (*) 

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi