Rawan Paham Radikal, Solo Masuk Zona Merah Terorisme

10/09/2018, 17:02 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
ILUSTRASI: Kota Solo masuk sebagai daerah dengan status zona merah terorisme yang ada di Jawa Tengah. (dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Kota Solo masuk sebagai daerah dengan status zona merah terorisme yang ada di Jawa Tengah. Selain di Jateng, ada 11 daerah lain di Indonesia yang masuk dalam zona merah terorisme, diantaranya Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi dan juga daerah lainnya.

Demikian seperti diungkapkan oleh Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jateng, Budiyanto kepada JawaPos.com, di sela-sela Workshop bertema Literasi Digital Sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat, Senin (10/9).

Budi menambahkan, masuknya Jateng sebagai daerah zona merah ini karena banyak pelaku dari aksi terorisme yang terjadi berasal dari Solo atau Jateng. Dan Solo juga masuk dalam daerah yang rawan dengan adanya penyebaran paham radikalisme dan terorisme.

ZONA MERAH: Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jateng, Budiyanto saat memberikan keterangan kepada wartawan, Senin (10/9). (Ari Purnomo/JawaPos.com)

"Selain di Jateng yang masuk zona merah radikalisme dan terorisme seperti di Jatim, Jabar, Sulawesi, Poso, dan daerah lainnya," urainya.

Selain zona merah, Budy menambahkan, ada pula daerah yang masuk zona kuning. Zona kuning ini disinyalir banyak embrio radikalisme yang mulai berkembang. Sehingga perlu juga diwaspadai. Beberapa daerah yang masuk zona kuning diantaranya, Banjarnegara dan juga di Banyumas.

"Kemudian di wilayah Kedu juga diketahui ada embrio yang mulai berkembang," katanya. 
Perkembangan radikalisme maupun terorisme menurut Budiyanto dapat dicegah. Salah satunya yakni dengan mewujudkan kondisi keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing. Untuk mewujudkan hal itu perlu adanya koordinasi antara pemangku kepentingan atau stakeholder yang ada.

"Selain itu juga dengan melakukan monitoring sumber-sumber rekruitmen kader atau ustad yang terindikasi sebagai tokoh dalam jaringan Jamaah Islamiyah (JI) dan juga jaringan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT)," katanya. 

Budi juga mengimbau kepada masyarakat agar segera melapor kepada pihak berwajib jika mendapati ada yang mencurigakan dengan warga di sekitarnya.

Dalam kesempatan yang sama Kasi Partisipasi Masyarakat BNPT, Letkol Laut Setyo Pranowo mengungkapkan, perlu adanya pemahaman kepada masyarakat terkait untuk mengantisipasi semakin berkembangnya terorisme.

(apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi