Narkoba Sasar Pelajar, Gubernur Sulsel: Jangan Anggap Sepele

10/09/2018, 16:38 WIB | Editor: Dida Tenola
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah (Syahrul Ramadan/ JawaPos,com)
Share this

JawaPos.com- Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah, angkat bicara terkait kasus peredaran narkoba yang melibatkan pelajar di Makassar. Dia prihatin dengan kondisi tersebut.

Menurut Nurdin, kasus yang melibatkan pelajar itu tidak bisa dianggap sepele. Dugaan Nurdin, kedua pelajar bersinggungan dengan kartel narkoba. "Jadi ini kartel tidak bisa dianggap enteng," terang Nurdin saat berkomentar soal tertangkapnya bocah SD di Makassar beberapa saat lalu.

Nurdin berharap peredaran narkoba yang melibatkan pelajar SD tidak terulang kembali. Peran sekolah dan orangtua sangat penting untuk membentuk karakter anak. "Kita memang harus menggunakan hati saat mendidik. Tidak hanya sekadar anak-anak hadir (ke sekolah) lalu dikasih pelajaran," tamnbahnya.

Ilustrasi sabu-sabu (Dokumen JawaPos.com)

Pendidikan berkarakter, kata Nurdin, harus dimulai dari rumah. Orang tua memiliki peran penting dalam pembentukan karakter tersebut. "Makanya orangtua (yang anaknya terlibat narkoba) rata-rata ada masalah keluarga. Kedua, masalah ekonomi harus diperbaiki,” tegas Nurdin.

Seperti diberitakan sebelumnya, siswa SD berinisial RE, 13, sempat menjadi incaran kepolisian kurang lebih sebulan terkait kasus peredaran narkoba. Siswa kelas V itu, disebut-sebut melarikan diri, pasca rekannya, AR 16, tertangkap mengedarkan sabu awal Agustus lalu.

Kapolsek Tallo Makassar Kompol Amrin AT mengatakan, RE dibawa oleh ibunya ke Mapolsek untuk menyerahkan diri pada Jumat (7/9) lalu. Penyerahan diri itu dilakukan, setelah penyidik Polsek berkali-kali membujuk orang tuanya itu agar membiarkan anaknya diproses hukum. "Sebelumnya penyidik sudah mendatangi terus orang tuanya, terus berusaha membujuk. Dalam kasus ini kami memang harus melakukan pendekatan khusus karena ditakutkan si anak trauma," kata Amrin saat dikonfirmasi JawaPos.com, Senin (10/9).

Setelah diserahkan, RE langsung dititipkan ke pihak Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) pemerintah kota (Pemkot) Makassar. RE menyusul rekannya AR yang telah lebih dulu mendapatkan bimbingan di sana. "Mereka untuk sementara di sana sambil menunggu proses hukumnya rampung. Sebelum diserahkan orang tuanya ke polisi, anak itu diungsikan ke rumah keluarga dan teman-temannya," imbuh Amrin.

Sedangkan AR, siswa yang masih duduk dibangku kelas II SMP itu, dibekuk di Jalan Pannampu, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Senin (6/8) lalu. Dia diringkus ketika hendak menjual serbuk haram tersebut senilai Rp 200 ribu.

Sejauh ini, lanjut Amrin, pihaknya masih mengejar jaringan lain, pengedar narkoba yang melibatkan bocah SD dan SMP itu. Dari interogasi awal, RE mengaku mendapatkan paket sabu-sabu tak bertuan di sekitar posyandu tak jauh dari rumahnya. Barang itu kemudian diserahkan ke rekannya untuk dijual."Bisa jadi ini jaringan terputus. Tapi kami tetap dalami, apa benar dia tidak tahu siapa pemilik awal barang. Pelan-pelan agar anaknya tidak trauma," bebernya.

(rul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi