alexametrics

Gandeng Komunikasi UMM, LSF Galakkan Sensor Mandiri

10 Juni 2021, 19:03:53 WIB

JawaPos.com – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperoleh mitra strategis untuk melanjutkan program-programnya. Kali ini Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia menggandeng prodi yang baru saha tersertifikasi internasional AUN QA itu untuk berkolaborasi dalam penguatan literasi film.

Menandai kegiatan pertama kerjasama kedua pihak, Komunikasi UMM dan LSF menggelar seminar nasional perfilman, Rabu (9/7). Agenda yang diadakan secara daring dan luring ini mengangkat tema “Sensor Film diantara Kebebasan Berkreasi dan Menjaga Budaya Bangsa”.

Tampil sebagai narasumber, Ketua LSF Rommy Fibri Hardiyanto, dan dosen Komunikasi UMM, Nasrullah. Acara dibuka Wakil Rektor I, Prof Dr Syamsul Arifin. Ketua Prodi Komunikasi UMM, M Himawan Sutanto menyatakan kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan MoU yang dilangsungkan kedua pihak bulan lalu di Jakarta.

Selain seminar Bersama, kerjasama juga meliputi penguatan kapasitas tenaga sensor, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pemagangan, penguatan gerakan Desa Sensor Mandiri, serta sedang dijajaki sertifikasi.

“Ini merupakan langkah awal. Selanjutnya, sebagaimana arahan rektor, Komunikasi UMM dan LSF akan mewujudkan kerjasama ini untuk memperkuat MBKM (Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, red),” terang Himawan.

Diskusi berlangsung menarik karena sebagian peserta yang mengikuti langsung di lokasi acara maupun secara online lewat channel Youtube Komunikasi UMM menyampaikan pertanyaan kritis. Salah seorang penanya dari Cirebon, misalnya bertanya apa urgensi LSF saat ini ketika kreatvitas seharusnya tidak perlu dibatasi.

Sebelumnya, dalam pemaparannya, Nasrullah mengungkapkan film ada di antara tiga posisi strategis. Yakni sebagai industri, komunikasi massa, dan kebudayaan.

Sebagai industri, perfilman merupakan bisnis yang menggiurkan yang melibatkan tidak hanya insan film di bidang produksi, tepai juga distribusi dan penayangannya. Profit dari sebuah film yang bagus dan box office bisa berlibat ganda.

Di sisi lain, film merupakan komunikasi massa yang sangat tergantung dari apa isi dan bagaimana teknologi infomasi yang membawanya sampai kepada penonton. Film dalam hal ini dapat digunakan untuk propaganda hingga agitasi. “Kekuatan film sangat dahsyat mempengaruhi khalayak,” kata Nasrullah seraya mencontohkan film propaganda anti-vaksinasi di Amerika Serikat, Vaxxed.

Film juga merupakan produk budaya yang penting. Kata Nasrullah, film merupakan lanskap peradaban sehingga untuk melihat kemajuan sebuah bangsa dapat dilihat dari filmnya. “Jika Korea dapat menggoncang dunia melalui Korean Wave, maka seharusnya Indonesia bisa menggerakkan anak-anak muda di belahan dunia lain untuk menggandrungi kuliner rendang, tarian pendet, kepulauan di Labuhan Bajo atau Raja Ampat,” ungkapnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads