JawaPos Radar

Money Politics Harus Menjadi Musuh Bersama

09/11/2018, 18:35 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Politik Uang
ILUSTRASI: Pemilih melenial harus menjadi pemilih yang idealis yang tidak bisa diberikan materi apapun dalam menentukan pilihan pada pemilu nanti. (dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Guna menambah pemahaman bersama tentang bahaya money politics, aktivis Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orda Tanjungpinang membuat program ICMI Goes to School, Jumat (9/11). Empat pengurus ICMI Tanjungpinang bertandang ke Madrasah Aliah Negeri (MAN) Tanjungpinang untuk memberikan sosialisasi bahayanya money politics untuk demokrasi di daerah dan Indonesia ke depan.

Di depan hampir 100 siswa MAN Tanjungpinang, pengurus ICMI diantaranya mantan Ketua KPU Tanjungpinang, Robby Patria; pegawai Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Kepri, Sisca, dosen STAI MU Tanjungpinang, Rini Pratiwi dan Yudistira; bergantian memaparkan tentang demokrasi dan pemilu serentak 2019 mendatang.

Dalam paparan tersebut, dijelaskan demokrasi akan berjalan baik bergantung pada siapa yang nanti duduk menjadi wakil rakyat. Jika figur yang baik secara integritas kalah dibanding dengan figur kurang baik yang menang disebabkan menggunakan politik uang, maka jangan banyak berharap daerah kita akan cepat maju.

Pemilih melenial harus menjadi pemilih yang idealis yang tidak bisa diberikan materi apapun dalam menentukan pilihan pada pemilu nanti. Menjadi pemilih cerdas yang memilih berdasarkan track record calon. Bukan karena cantik atau ganteng bahkan karena memberikan materi.

"Kita harus memilih didasarkan kepada kapasitas calon. Pemilih melenial yang menjadi pemilih terbanyak di pemilu 2019 nanti, jadi sangat menentukan nasib demokrasi kita," ujar Rini.

Rini menjelaskan, money politic menurutnya harus dimusuhi bersama. Karena sangat berbahaya untuk demokrasi yang sedang dibangun. Ditambahkannya, demokrasi yang dipilih sebagai sarana untuk mencapai Indonesia yang sejahtera adil dan makmur. Namun banyak negara di dunia mengalami masalah serius disebabkan warga negaranya mudah diadu domba dengan politik identitas dan isu sara.

"Sebagai generasi penerus bangsa hal itu harus kita buang jauh jauh," ujarnya mengingatkan.

Lembaga kenamaan asal Amerika Serikat, Mc Kensey memprediksi Indonesia akan menjadi negara terkuat ketujuh di dunia ekonominya ketika usia Indonesia 100 tahun kemerdekaan. Artinya akan menjadi negara maju di tahun 2045, dan mereka yang menjadi pemimpin Indonesia saat itu adalah siswa siswa SMA saat ini karena usia mereka di umur 40-an tahun.

Untuk itu, Robby mengingatkan agar generasi milenial bisa benar-benar memahami cara berdemokrasi. "Mulai sekarang anda harus mengkampanyekan anti politik sara, anti hoaks, anti fake news, dan anti politik kebencian. Karena itulah yang merusak demokrasi yang sedang dibangun saat ini," kata Robby.

(bbi/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up