alexametrics
Mengenal 6 Pahlawan Baru Indonesia

Kasman Singodimedjo, Pahlawan yang Pernah Dituduh Ancam Nyawa Soekarno

9 November 2018, 15:08:23 WIB

JawaPos.com – Nama tokoh pejuang kemerdekaan Kasman Singodimedjo sebenarnya sudah lama diajukan untuk dianugerahi gelar pahlawan nasional. Namun baru tahun ini saja titel itu disematkan, lantaran tokoh asli bumi Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah itu pernah dianggap mengancam nyawa Ir. Soekarno.

Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Wasino mengatakan, pengusulan nama Kasman menjadi tokoh pahlawan nasional dilakukan sudah sejak lama. Tahun lalu juga dirinya diundang sebagai anggota Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) guna menggodok usulan itu.

“(Gelar pahlawan nasional kepada Kasman) itu ditolak. Karena pada tahun 1963, dia dianggap melakukan persekutuan jahat. Salah satunya untuk melakukan pembunuhan terhadap Presiden Ir. Soekarno,” terang Wasino kala dijumpai di kediamannya, Kamis (8/11) malam.

Pahlawan Nasional
Ahli waris memegang tanda jasa yang diserahkan oleh Presiden Joko Widodo saat penganugerahan gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11). (Raka Denny/ Jawa Pos)

Kasman pada saat itu ditahan Korps Intelejen di Kantor Polisi Komisariat Jakarta Raya. Atas tuduhan berpartisipasi dalam perkumpulan yang bermaksud melancarkan tindak kejahatan dan dilarang undang-undang, serta dituduh berniat membunuh presiden juga menyelewengkan Pancasila, Kasman divonis penjara selama 2 tahun 6 bulan.

Sementara pada salah satu poin syarat umum kriteria calon pahlawan nasional berdasarkan UU No. 20 Tahun 2009, tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan Pasal 25 dan Pasal 26, salah satu poin berbunyi ‘Setia dan tidak menghianati bangsa dan Negara; dan Tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun.’

Kasman hanya dipenjara selama 2 tahun 6 bulan saja, namun menurut Wasino, poin itu multitafsir. “Kemungkinan pertimbangan yang dipakai adalah tidak menghianati bangsa dan negara itu. Tapi waktu itu nama Kasman tetap diajukan TP2GD, tapi ditolak saat di TP2GP (Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat),” terangnya.

Ikhwal dari peristiwa ini adalah ketika Negara Indonesia telah memasuki masa awal kemerdekaan, tahun 1955. Dimana pada saat itu ada empat partai besar yang berdiri dengan ideologi masing-masing. Antara lain Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan Soekarno sebagai pentolannya. Kemudian Partai Komunis Indonesia (PKI) dan dua partai berbasis Islam. Yaitu Nahdlatul Ulama (NU) serta Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Dimana ada Kasman di situ yang menjabat sebagai Dewan Konstituante.

“Di sini terjadi friksi ideologis. Di saat musuhnya nggak ada (penjajah) mereka (empat partai besar) bersaing di dalam. NU yang dulu dengan basis pedesaan, muslim tradisional, lalu Masyumi, basisnya perkotaan dan Islam modern. PNI, yakni basisnya priyayi lama dan baru dari desa dan perkotaan. Lalu PKI, abangan, massa pedesaan dan buruh perkotaan proletar,” terangnya panjang.

Pada masa itu, ada semangat untuk menghidupkan kembali syariat Islam, yang sebelumnya tercantum dalam Piagam Jakarta dan diganti menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Dan Masyumi lah di sini yang paling getol.

“Soekarno berusaha mencari kekuatan untuk mematahkan ini. Sehingga mencari kekuatan dan dukungan dari NU dan PKI. Sekitar tahun 1960an, Masyumi dianggap terlalu memusuhi Soekarno. Kemudian Masyumi dibubarkan karena diduga juga mendukung pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Dan Kasman menjadi kekuatan oposan, yang tadinya temannya Soekarno. Kemudian ditangkap karena dianggap mengancam nyawa presiden,” lanjutnya.

Dalam hal ini, Wasino pun menilai, penentuan gelar pahlawan nasional terhadap Kasman tak terlepas dari dua aspek. Diantaranya akademik dan politik selain persyaratan dasar lainnya.

Secara akademik, figur tersebut diteliti sejarawan bahwa selama hidupnya berjuang bagi bangsa dan negara. Tapi tak semua yang berjasa bisa menjadi pahlawan kalau tak ada kepentingan atau manfaat politik di dalamnya. Itulah mengapa ada sinergi di antara keduanya.

“Contoh, bisa nggak dulu yang pada masa penjajahan dan revolusi kemerdekaan ikut berjuang tapi kemudian tersangkut G30SPKI. Sekarang kan secara politik tidak ada dukungan. Maka itu tak mungkin sekarang ini mengusulkan tokoh PKI menjadi pahlawan nasional. Itulah mengapa ada sinergi aspek akademik dan politik. Kemenangan politik siapa sekarang ini yang kemudian dia bisa diangkat jadi pahlawan nasional,” bebernya.

Menilik sederet kiprah Kasman, Wasino menilai gelar pahlawan nasional memang layak disematkan kepadanya. Mulai berjasa dari merumuskan Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, tergabung dalam Pembela Tanah Air (PETA), hingga menjadi Jaksa Agung.

“Kesalahan Kasman itu karena dia berada di Masyumi saja dan kemudian dia ada perseberangan politik ketika Soekarno dekat dengan PKI. Itulah dinamika politik, sehingga ada pula yang tak setuju dia jadi pahlawan. Pahlawan itu kalau dilihat nggak ada yang bersih selama hidupnya,” tutupnya.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (gul/JPC)



Close Ads
Kasman Singodimedjo, Pahlawan yang Pernah Dituduh Ancam Nyawa Soekarno