JawaPos Radar | Iklan Jitu

Pertumbuhan Ekonomi Desa Ampuh Cegah Berkembangnya Radikalisme

09 Oktober 2018, 16:36:50 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo
MEMBERIKAN SAMBUTAN: Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo saat memberikan sambutan dalam acara Konferensi Desa Damai di Solo, Selasa (9/10). (Ari Purnomo/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Pertumbuhan perekonomian di pedesaan diklaim mampu mencegah adanya radikalisme dan terorisme. Selama ini, berkembangnya radikalisme hingga terorisme disinyalir karena adanya faktor kemiskinan yang terjadi dan juga rasa ketidakadilan terhadap pemerataan perekonomian.

Maka dari itu Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mendorong adanya pemerataan perekonomian di pedesaan.

Usai memberikan sambutan di Konferensi Desa Damai yang digelar di Alana Hotel, Solo, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo mengatakan, pelaksanaan dana desa sampai saat ini berjalan cukup baik.

Adanya dana desa mampu mendorong adanya pertumbuhan perekonomian di desa. "Walau awal-awalnya memang ada masalah karena ketidaksiapan perangkat desa, tapi mereka juga bisa belajar," terangnya kepada JawaPos.com, Selasa (9/10).

Selain itu, lanjutnya hal ini juga didukung oleh berbagai pihak. Seperti kepolisian, kejaksaan, media, dan juga masyarakat yang ikut berpartisipasi. Eko juga menyebut bahwa angka kemiskinan di desa lebih kecil dibandingkan di perkotaan. Dan untuk pertama kalinya penurunan kemiskinan di desa lebih cepat daripada di kota.

Dengan kondisi ini, Eko meyakini akan mampu membantu mengurangi rasa ketidakadilan dan akan membantu masyarakat sehingga tidak terpengaruh dengan isu terorisme, ekstrimisme dan sebagainya. "Selama ini (radikalisme) karena rasa ketidakadilan," ucapnya.

Sementara itu, Direktur non aktif Wahid Foundation, Yenni Wahid juga mengatakan, salah satu penyebab terjadi radikalisme adalah ketika orang, merasa putus asa. Dan hal tersebut bisa disebabkan oleh banyak hal.

Dan salah satunya karena adanya rasa ketidakadilan yang menyangkut dirinya atau pun ketidakadilan mengenai masalah ekonomi. "Kondisi tersebut membuat orang itu sangat mudah terprovokasi oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab," ucapnya.

Apalagi, lanjutnya, menggunakan jargon-jargon agama. Sehingga, orang yang dalam posisi merasa ada ketidakadilan tersebut sangat mudah tersulut. Selain itu, masih kata Yenny juga bisa disebabkan karena adanya keputusasaan terhadap masa depan. Kemudian diiming-imingi oleh seseorang bisa masuk surga. "Makanya kamu dengan program Desa Damai ingin memutus mata rantai itu," tandasnya.

(apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up