JawaPos Radar

Begini Pola Kerja Sindikat Perdagangan Bayi di Instagram

09/10/2018, 19:19 WIB | Editor: Dida Tenola
Begini Pola Kerja Sindikat Perdagangan Bayi di Instagram
Dari kiri ke kanan, AKP Agung Widoyoko, AKBP Sudamiran, Kompol Rety Husein menunjukkan barang bukti transaksi perdagangan bayi, Selasa (9/10). (Aryo Mahendro/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Aktor utama perdagangan bayi di Surabaya rupanya punya banyak muslihat untuk menyembunyikan bisnis haramnya. Selain berkedok jasa adopsi, tersangka Alton juga berpura-pura membuka konsultasi.

Kanit Jatanras Polrestabes Surabaya AKP Agung Widoyoko menjelaskan, di akun Instagram yang dikelola Alton, tertulis keterangan perawatan anak di luar tali pernikahan. "Tujuan si Alton itu supaya para ibu itu nggak ambil jalan pintas. Misalnya, nggak digugurkan atau ditelantarkan," jelas Agung, Selasa (9/10).

Nah, dari sanalah Alton memulai modus operandinya. Dia menguggah foto para ibu dengan anaknya yang terlantar. Para ibu ini sebelumnya sudah berkonsultasi kepada Alton.

Termasuk, foto rontgen bayi yang masih di dalam kandungan. Setelah itu, banyak perempuan yang tidak dikaruniai anak ingin mengadopsi bayi. Mereka tinggal menghubungi nomor telepon Alton yang memang sengaja dipajang di akun Instagram-nya. "Jadi, komunikasinya misalnya, oh iya nggak masalah diadopsi. Nanti anak di dalam kandungan setelah 9 bulan. Nah, semua biayanya juga diatur,” tambah Agung.

Mantan Kanitreskrim Polsek Wonokromo tersebut melanjutkan, modus seperti itu berlangsung sejak 4 hingga 5 bulan lalu. Selama itu, sudah ada empat kesepakatan jual beli anak.  

Kesepakatan pertama, dilakukan Alton saat menerima klien dari Semarang. Agung mengatakan, bayi yang ditawarkan Alton sudah sempat diadopsi. Namun, keburu ketahuan oleh orang tua si ibu kandung.

Yang kedua, Alton sukses mempertemukan seorang ibu kandung dengan pihak yang akan mengadopsi. Proses adopsinya pun berhasil.

Ketiga, kesepakatan itu juga sukses terjadi di Bali. Ketut, yang seorang pensiunan bidan, bertindak sebagai perantara sejak kesepakatan kedua terjadi. "Yang kali keempat itu ya yang saya tangkap ini. Kenapa saya getol dengan kasus ini, karena ada keterlibatan uang,” tegas Agung. 

Sebelum ditangkap, Alton mengajak Larisa si ibu kandung bayi, bertemu di Terminal Purabaya.  Setelah sepakat soal biaya perawatan dan pengasuhan, mereka berangkat ke Bali untuk menemui adopter yakni Ketut. "Larisa mengetahui informasi soal Ketut yang berprofesi bidan dari salah seorang akun yang mem-follow Alton. Lali, si Alton langsung berkomunikasi dengan Ketut. Nah, Ketut itu punya (koneksi) orang-orang yang mau adopsi anak," jelas Agung. 

Setelah bertemu, Larisa menyerahkan bayinya kepada Nyoman, kenalan Ketut. Nyoman membayar Rp 22,5 juta. Uang itu kemudian dibagikan masing-masing Larisa menerima Rp 20 juta; Ketut Rp 5 juta; dan Alton, Rp 2,5 juta. "Saat mereka transaksi, hanya ada surat pernyataan penyerahan bayi. Pakai meterai. Larisa yang menulis suratnya,” terang polisi dengan tiga balok di pundak itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, Unit Jatanras Polrestabes Surabaya membongkar praktik perdagangan bayi berkedok jasa adopsi. Bayi-bayi tak berdosa itu dijual melalui akun Instagram @konsultasihatiprivat yang dikelola Alton.

 

 

 

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up