Keindahan Pulau Kemaro, Mengenang Kisah Cinta yang Tak Sampai

09/09/2018, 18:01 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Suasana di tempat wisata Pulau Kemaro (Alwi Alim/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Provinsi Sumsel menyimpan banyak keindahan yang mampu menarik para wisatawan untuk berkunjung. Salah satunya Pulau Kemaro. Pulau cantik tersebut menyimpan cerita percintaan dua anak manusia.

Pulau Kemaro hanya mampu ditelusuri lewat jalur sungai menggunakan getek atau speedboat dari pelataran Benteng Kuto Besak (BKB). Untuk mencapai pulau ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan ongkos yang dipatok sekitar Rp 300 ribu untuk pulang dan pergi.

Pulau Kemaro menyimpan banyak sejarah. Meskipun memang hingga kini belum mampu dibuktikan kebenarannya yaitu kisah percintaan antara Siti Fatimah yang merupakan putri Raja Palembang dan Tan Bunn Ann yang merupakan anak raja di Cina yang hijrah ke Palembang.

Suasana di tempat wisata Pulau Kemaro (Alwi Alim/JawaPos.com)

Didalam prasati yang tertulis di Pulau Kemaro diceritakan bahwa sepasang kekasih yang berbeda etnis ini saling mencintai. Namun, mereka berdua harus berakhir tragis di Sungai Musi.

Bermula saat Tan Bunn Ann terjun ke Sungai Musi untuk mengejar guci emas hadiah keluarganya di Tiongkok yang terjatuh ke Sungai Musi. Namun, Tan Bunn Ann tidak pernah kembali.

Fatimah yang merasa gelisah pun kemudian menyusul kekasihnya terjun ke Sungai dan berakhir sama dan tidak pernah terlihat kembali.

Hingga, akhirnya muncul pulau kecil tepat ditempat sepasang kekasih ini terjatuh. Pulau seluas 180 hektar yang tidak pernah tenggelam saat air pasang dan warga pun memberinya nama Pulau Kemaro.

Selain sejarah yang khas, beberapa bangunan yang ditonjolkan pun seperti pagoda setinggi 9 lantai dan Kelenteng Tua Hok Cing Bio yang sudah berusia ratusan tahun ini juga mampu menarik wisatawan baik wisatawan asing maupun wisatawan lokal.

Salah satu wisatawan lokal, Elda Inayah, 25, mengatakan senang berkunjung ke Pulau Kemaro karena memang banyak pohon yang rimbun dengan nuasana Cina yang membuat khas tempat wisata ini.

"Tempatnya bagus dan indah dengan ciri khas Cina yang kental," katanya saat ditemui di Pulau Kemaro, Minggu (9/9).

Diakuinya biasanya ia hanya mengunjungi Pulau Kemaro ini saat perayaan Cap Go Mei. Karena memang, setiap perayaan tersebut pulau ini selalu ramai didatangi kaum Tionghoa untuk bersilaturahmi dan beribadat.

Tapi, kali ini ia sengaja datang kesini karena ingin melihat kembali suasana Pulau Kemaro di siang hari. "Kami harap wisata ini selalu dijaga keasliannya sehingga tidak rusak ditelan usia," tutupnya.

Sementara itu, Rama Jati, 28, salah satu wisatawa asal Jakarta ini mengaku tertarik untuk datang ke Pulau Kemaro ini dari informasi teman serta melihat artikel diinternet.

Ia mengaku sedikit takjub melihat keindahan wisata Pulau Kemaro ini yang begitu kental Pecinan serta sejarah yang tertulis di batu Pulau Kemaro.

"Karena libur sedikit panjang jadi kami sengaja datang ke Palembang untuk mengunjungi Pulau Kemaro ini," katanya.

Dilanjutkannya, untuk melihat dua makam yakni Siti Fatimah, Putri Raja Palembang dan Tan Bun Ann yang merupakan pangeran dari Cina. Serta mencoba untuk diduduk di bawah pohon cinta.

"Kata banyak orang jika duduk bersama pasangan di bawah pohon itu, hubungan bisa awet dan romantis. Jadi saya pengen coba," singkatnya.

(lim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi