JawaPos Radar

Fakta-fakta di Balik Insiden Bus Maut: Muatan Berlebih

Sempat Mogok Sebelum Terperosok ke Jurang

09/09/2018, 09:06 WIB | Editor: Ilham Safutra
Fakta-fakta di Balik Insiden Bus Maut: Muatan Berlebih
Petugas mengevakuasi para korban tewas kecelakaan bus di Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (8/9). (Radar Sukabumi/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com - Ada sejumlah fakta yang didapatkan dari insiden kecelakaan bus maut di di jalur Cikidang, Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (8/9). Bus itu mengangkut rombongan wisata karyawan diler sepeda motor Honda di Jawa Barat, Catur Putra Group (CPG) Bogor. Pada kejadian nahas itu bus tersebut terperosok ke jurang. Sebanyak 21 korban tewas dan belasan lainnya mengalami luka-luka.

Peristiwa nahas yang menimpa bus bernopol B 7025 SAG itu terjadi sekitar pukul 12.00. Bus dengan tujuan tempat wisata gathering arung jeram tersebut ditumpangi puluhan karyawan CPG. Dalam perjalanannya, terdapat lima unit bus serta sejumlah kendaraan pribadi dengan anggota rombongan sekitar 200 orang. Mereka pun berjalan beriringan. Bus B 7025 SAG berada di urutan terakhir.

Setiba di turunan leter S Cikidang-Pelabuhan Ratu, bus mengalami rem blong. Sopir bus diduga tak mampu mengendalikan laju kendaraan sehingga jatuh ke jurang dengan kedalaman sekitar 30 meter. Bus terperosok ke jurang dan membuat para penumpang di dalamnya terjepit. Akibatnya, 21 orang tewas dan 17 orang menderita luka-luka.

Fakta-fakta di Balik Insiden Bus Maut: Muatan Berlebih
Petugas mengevakuasi para korban tewas kecelakaan bus di Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (8/9). (Radar Sukabumi/Jawa Pos Group)

Para korban kemudian dievakuasi dengan sejumlah mobil ambulans ke Puskesmas Cikidang, Rumah Sakit Sekarwangi, dan RSUD Palabuhanratu Sukabumi. Dalam proses evakuasi, petugas Polres Sukabumi dibantu warga.

Ayus, warga sekitar, menyatakan bahwa lokasi kecelakaan yang dikenal sebagai tanjakan atau turunan leter S itu memang rawan kecelakaan. Dia menduga pengemudi tidak hafal jalan, ditambah rem blong. "Di sini sering terjadi rem blong karena jalannya sangat curam," katanya saat ditemui Radar Sukabumi (Grup Radar Bogor) kemarin.

Salah seorang korban selamat bernama Piliandi, 31, warga Curug, Bogor, mengatakan bahwa sebelum peristiwa terjadi, bus yang ditumpanginya sempat mogok. Namun, tak berlangsung lama, bus kembali melaju. "Sempat berhenti, informasinya slang solarnya bocor. Setelah itu langsung jalan kembali," ujar dia saat ditemui di IGD RSUD Palabuhanratu.

Saat kejadian, Piliandi berada di paling belakang dekat pintu. Selama perjalanan, dia mengaku tertidur pulas. Dia baru terbangun setelah insiden maut terjadi dan mendengar teriakan teman-temannya yang selamat.

"Saya tak tahu apa yang terjadi selama bus melaju kembali," ucapnya. Menurut Piliandi, kedatangannya bersama rombongan itu adalah yang kedua untuk gathering di Riam Jeram, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi.

Humas RSUD Palabuhanratu Bili Agustin menjelaskan, total korban meninggal dunia mencapai 21 orang, 11 dalam perawatan, dan 3 orang masih dalam kondisi kritis. Sedangkan tiga orang lagi dirawat di RSUD Sekarwangi.

Tiga korban yang dirawat RSUD Sekarwangi adalah Ridwan Fir­daus, 29, warga Cibeureum Kalong, RT 5 RW 1, Sukawening, Dramaga, Bogor; Rudi Saripudin, 45, warga Gang H Ugun Cikerti, RT 4 RW 6, Padasuka, Ciomas, Bogor; dan Tanti Binti Tatang, 17, warga Cimanggis, RT 1 RW 1, Desa Mekarsari, Tanah Sereal, Kota Bogor.

Para korban yang dirawat di RSUD Palabuhanratu adalah Aisyah (marketing), Andre Gunawan (office boy), Deni Sulaeman (channel), Ahmad Fauzi (mekanik), Heru Siswanto (supervisor legal), Jepri Agus Sitorus (branch manager), Mahrudin (channel), M. Saleh (supervisor channel), Pendi (marketing), Piliandi (kepala satelit), Rahmat (kepala bengkel), Rico Sadam Husein (kepala administrasi gudang), Tisna (satelit), dan Syafrufin (kepala bengkel).

Sedangkan korban meninggal dunia adalah Al Jubaedah (marketing), Arman Hermawan (administrasi legal), Budi Supriyadi (marketing), Dadan Ziwandana (channel), Galih Nurhadi (marketing), Agus Syamsudin (marketing), Nurul Sobah (counter), Hendar Ahmad Darwis (marketing), Kustiwati (marketing), M. As'ary (marketing), Nasikun (mekanik), Pajar Rullah Akbar (administrasi BPKB), Prayitno (marketing), Remon Alfredo Fridolin Manik (supervisor channel), Romli (supervisor channel), Santi Ropika Sitorus (supervisor marketing support), Sri Juliani (administrasi leasing), Syarudin (driver kanwasing), Tagrit Daulat (marketing), Doni Andi Pradana (marketing), dan Pajar Rullah Akbar (sopir).

Kapolres Sukabumi AKBP Nasriadi mengatakan, semua korban sudah dievakuasi dari bangkai bus. Lintasan jalan tersebut, kata Nas­riadi, memang curam dan di sana sering terjadi kecelakaan. Bahkan, polisi selalu mengimbau pengguna jalan agar berhati-hati saat melintasi jalur Cikidang tersebut. "Kondisi jalan yang curam dan menurun mengakibatkan kendaraan yang melintas harus berhati-hati," ujarnya.

Nasriadi menjelaskan beberapa penyebab terjadinya kecelakaan di jalur alternatif Cikidang. Manifes sementara yang dia terima, ada kelebihan muatan. "Jumlah muatan sebanyak 26 orang. Jumlah korban yang kami rujuk itu kurang lebih 30 orang. Artinya, ada overlap," ungkapnya.

Selain itu, surat uji kendaraan (kir) yang ada pada bodi kendaraan sudah kedaluwarsa, yakni 2016. Namun, dia belum bisa memastikan hal itu. Sebab, bisa saja pemilik kendaraan sudah memperbaruinya.

"Kami belum tahu apakah sudah ada kir baru atau belum. Yang jelas, kir yang terpasang pada badan kendaraan itu masa berlakunya 2016, sementara sekarang kan sudah 2018," jelasnya.

Nasriadi menambahkan, berdasar keterangan saksi dan korban, diduga kuat penyebab kecelakaan adalah rem bus yang tidak berfungsi dengan normal. "Jadi, saat di lokasi, kendaraan masih melaju kencang. Dugaan sementara karena remnya blong," ucapnya.

Sementara itu, hingga pukul 20.00 tadi malam, Polres Sukabumi masih mencari sopir bus maut tersebut. "Kami masih menganalisis sopir yang mengemudikan bus ini," imbuh Nasriadi. Dia belum bisa memastikan apakah sopir bus itu termasuk salah seorang korban yang meninggal.

Sementara itu, CPG merupakan diler resmi sepeda motor Honda di Jawa Barat. Salah satu cabangnya adalah PT Catur Putra Jaya di Jalan Raya Parung Bogor Km 15, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, yang karyawannya menjadi korban kecelakaan maut.

Pantauan Radar Bogor, kantor PT Catur Putra Jaya tampak ramai. Kendaraan roda dua tampak berjejer rapi di sana. Dari luar gerbang terlihat para penghuni diler saling bertanya satu sama lain. "Bagaimana kondisi keluarga saya? Selamat atau tidak?" tanya seorang kerabat korban.

Di kantor sekaligus showroom sepeda motor itu, tak ada satu pun perwakilan perusahaan yang memberikan pernyataan resmi. Awak media hanya diperkenankan berada di luar gerbang.

"Saya karyawan di sini. Ini juga masih belum tahu bagaimana kondisi teman-teman yang ikut tur ke Sukabumi. Kami sudah menerima kabar ada beberapa rekan yang meninggal. Tapi, semuanya baru sebatas info dari grup WhatsApp dan foto-foto. Kami masih menunggu kepastian dari rekan yang sedang berangkat ke sana," papar Dede, 42, salah seorang karyawan, kepada Radar Bogor.

Terpisah, staf HRD PT Catur Putra Jaya Nora mengaku terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat. Namun, dia enggan menjelaskan peristiwa lebih lanjut. 

(izo/hnd/die/ren/cr3/c9/agm)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up