alexametrics

Sisi Baik Erupsi Gunung Merapi

9 Februari 2019, 14:34:13 WIB

JawaPos.com – Gunung Merapi masih menunjukkan aktivitas vulkanik. Awan panas atau wedus gembel dan lava pijar beberapa kali keluar. Gelojak tersebut tak sepenuhnya membawa dampak buruk. Ada keuntungan yang didapat dari aktivitas Gunung Merapi. Terutama pada sektor pertanian.

Seperti usai erupsi pada 2010 silam. Dua tahun berselang atau tepatnya 2012, produktivitas padi di Kabupaten Sleman mencapai 6,7 ton per hektare. “Produktivitas pertanian menjadi yang tertinggi sejak saya bekerja dari 1990,” kata Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian, Pangan, dan Peternakan (DP3) Kabupaten Sleman Edi Sri Harmanto, Sabtu (9/2).

Produksi padi meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 6,0-6,1 ton per hektare. Kemudian pada 2013, produksi padi di Sleman kembali menurun menjadi 6,4 ton per hektare. Lalu pada 2018, produksi padi merosot menjadi 5,9 ton per hektare.

Begitu pula dengan jenis tanaman Salak dan kopi yang produksinya meningkat pada 2012. Namun untuk kopi dari sisi jumlah tanamannya mengalami banyak pengurangan karena terdampak awan panas. “Jadi ada sisi baiknya dengan adanya abu vulkanik ini,” terangnya.

Edi belum bisa memprediksi apakah abu vulkanik dari erupsi Merapi pada akhir-akhir ini juga bisa meningkatkan produktivitas pertanian. Karena erupsi dalam dua tahun terakhir masih lebih ekstrem pada 2010 silam. “Kalau akhir-akhir ini abu vulkanik tidak terlalu ekstrem. Kalau dulu kan menyebar,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Hotel dan Penginapan di kawasan Kaliurang, Kabupaten Sleman Heribertus Indiarta mengatakan, gejolak Gunung Merapi menyebabkan okupansi hotel menurun hingga 10 persen. Terutama kunjungan tamu rombongan.

“Ketika muncul banyak berita gencar tentang guguran lava pijar, ya hari berikutnya tamu yang sudah pesan tempat konfirmasi apakah kondisi aman.
Menurut laporan anggota, ada yang membatalkan acara, mundur acaranya, atau tetap berlangsung dengan was-was,” terang Heribertus.

Adanya volcano hunter berupa melihat guguran Merapi merupakan daya tarik sendiri. Namun musim hujan menyebabkan Merapi lebih sering tertutup kabut. “Jika sedang terjadi guguran lava pijar tidak tampak saat musim hujan. Padahal kalau terlihat guguran lava pijarnya indah sekali. Jadi atraksi wisata baru. Melihat guguran lava pijar dari titik aman itu indah sekali,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida menambahkan, kubah lava Merapi dalam kondisi stabil dengan laju pertumbuhan yang relatif rendah. Awan panas sebelumnya keluar pada Selasa (29/1) lalu. Sedikitnya ada 3 kali luncuran awan panas yang mengarah ke hulu Sungai Gendol, Kabupaten Sleman. Jarak luncur terjauh mencapai 1.400 meter.

Kemudian awan panas kembali muncul pada Kamis (7/2) pukul 18.28 WIB. Jarak luncurnya 2.000 meter. Sehubungan dengan sudah terjadinya beberapa kali awan panas dengan jarak luncur yang semakin besar, masyarakat di sekitar Sungai Gendol diminta meningkatkan kewaspadaan.

“Guguran lava dan awan panas berpotensi menimbulkan hujan abu. Masyarakat di sekitar diimbau untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik,” pesan Hanik.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : Ridho Hidayat


Close Ads
Sisi Baik Erupsi Gunung Merapi