alexametrics

November hingga Januari Musim Hujan, Kaltara Waspada Banjir

8 November 2019, 20:03:57 WIB

JawaPos.com – Kalimantan Utara (Kaltara) diprediksi akan memasuki musim penghujan mulai November 2019 hingga Januari 2020. Selama masa itu, warga diminta untuk tetap waspada terhadap terjadinya bencana banjir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltara Mohammad Pandi mengatakan, perlu adanya kewaspadaan karena jika terjadi intensitas hujan yang tinggi, maka tentu akan ada potensi terjadinya banjir di beberapa wilayah di Kaltara. “Waspada yang kita harapkan di sini, jangan sampai ada timbul korban saat terjadi bencana, seperti banjir,” ujar Pandi kepada Radar Kaltara (Jawa Pos Group) saat ditemui di Tanjung Selor.

Dia mengaku sudah melakukan pemetaan prediksi banjir di Kaltara. Selain di Tanjung Selor Ibu Kota Kaltara yang biasa terjadi banjir saat musim hujan, wilayah Kabupaten Nunukan juga demikian. Bahkan di wilayah perkotaan Nunukan yang dulunya tidak pernah banjir, sekarang sudah terjadi banjir. “Meskipun banjirnya hanya karena hujan,” sebutnya.

Termasuk juga di beberapa wilayah kecamatan lainnya di perbatasan dan pedalaman provinsi termuda Indonesia ini. Di antaranya, seperti di daerah Sembakung, Lumbis, dan Mansalong.

Sejauh ini memang belum ada terlihat curah hujan yang terlalu tinggi. Artinya, kondisi cuaca masih terbilang normal. Hanya saja, kewaspadaan harus tetap ada untuk mengantisipasi sewaktu-waktu hal itu terjadi.

Adapun untuk kesiapan sebagai upaya antisipasi jika terjadi banjir, sejauh ini BPBD Kaltara sudah tidak ada masalah. Peralatan yang dimiliki sudah cukup memadai. Bahkan sudah dibentuk desa tangguh bencana yang di dalamnya terdiri dari para relawan bencana.

“Di sini kita juga mengimbau kepada BPBD kabupaten/kota agar terus melakukan sosialisasi mengenai bahayan bencana, terutama bencana banjir dan tanah longsor kepada masyarakat,” serunya.

Tapi, perlu juga diketahui bahwa BPBD Kaltara sifatnya hanya mem-backup. Artinya bukan yang bertindak sebagai yang utama. Karena jika sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yang utama di sini adalah kabupaten/kota.

Pastinya, jika terjadi bencana banjir, beberapa hal yang dilakukan oleh pihaknya di antaranya fokus melakukan patroli untuk memastikan tidak ada persoalan yang tidak tertangani, serta menyaipkan titik evakuasi.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bulungan membutuhkan pos pembantu di sejumlah wilayah Bulungan untuk meng-cover 10 kecamatan. Diprediksi bencana yang terjadi tidak hanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi banjir yang menjadi langganan sejumlah daerah.

Kepala BPBD Bulungan Ali Patokah mejelaskan, daerah yang dianggap rawan bencana yakni Kecamatan Sekatak, Bunyu, Peso, dan Tanjung Palas Timur. Empat wilayah ini dinilai sangat rawan terjadinya bencana alam. “Yang harus diantisipasi tidak hanya karhutla tetapi banjir. Dan ada empat daerah rawan bencana. Sehingga dibutuhkan pos untuk mengantisipasi bencana,” ucap Ali Patokah kepada Radar Kaltara.

Dia menerangkan, adanya pos pembantu yang nantinya diisi dengan personel 8-15 orang dapat bekerja sigap. Sehingga dapat meminimalisir hal yang tidak diinginkan seperti adanya korban jiwa dan kerugian materil. Dia mencontohkan, kejadian kebakaran lahan yang sulit dijangkau dan minimnya personel membuat penanganan di lapangan tidak maksimal. Jika memiliki pos yang diisi personel dan peralatan standar, tentunya kejadian dapat diantisipasi.

“Seperti di wilayah Sekatak untuk sampai ke sana butuh waktu tiga jam. Saya miris ketika sampai api sudah menghabiskan semuanya. Makanya, kalau ada pos dapat membantu. Selain personel ada juga relawan yang sudah terlatih ditempatkan dan ditopang dengan sarana dan prasarana,” bebernya.

Editor : Fadhil Al Birra



Close Ads