JawaPos Radar

Menengok Desa Terluar di Kabupaten Bintan

Ustad Menjadi Barang Langka di Pulau Pejantan

08/09/2018, 13:27 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Pulau Pejantan
Pulau Pejantan, daerah terluar di Kabupaten Bintan. (Istimewa)
Share this

JawaPos.com - Pulau Pejantan merupakan daerah terluar di Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulaun Riau (Kepri). Wilayah tersebut dihuni 15 kepala keluarga (KK). Mayoritas warganya memeluk agama Islam. Namun fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar sangat minim. Termasuk guru agama.

Sehingga pemeluk Islam di Pulau Pejantan tidak bisa membaca Alquran. Bahkan sempat beredar kabar, ketiadaan tokoh agama di desa terpencil itu memaksa warga mengubur jenazah tanpa disalatkan terlebih dahulu.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tambelan Mulyadi lantas angkat bicara. Menurutnya, kabar yang beredar tidak semuanya benar. Namun ia juga tidak menyangkal akan kesulitas yang dialami masyarakat di Desa Pejantan.

Mulyadi menjelaskan, Pejantan adalah desa terjauh di Kecamatan Tambelan. Akses menuju ke sana pun sangat terbatas. Dari pulau Tambelan, butuh waktu sekitar delapan jam dengan menggunakan perahu nelayan. Akses yang sulit menjadi penyebab Desa Pejantan belum mendapat sentuhan pendidikan agama. Demikian pula dengan fasilitas dan guru sekolah.

Terkait kabar tidak adanya upacara keagamaan ketika ada warga yang meninggal, hal itu sekarang sudah tidak terjadi lagi. Kabar tersebut merupakan kejadian yang telah berlangsung cukup lama.

"Itu mungkin didengar dari cerita masyarakat. Memang sulit, tapi sekarang sudah tidak begitu lagi. Tidak setiap orang meninggal tidak diurus," kata Mulyadi ketika dihubungi, Sabtu (8/9).

Kini, sentuhan pendidikan agama sudah didapat masyarakat Pulau Pejantan dari ustad yang ditempatkan di Pulau Mentebung. Waktu tempuh kedua pulau sekitar 3 jam. Biasanya, ustad bertandang ke Pulau Pejantan kalau ada masyarakat yang meninggal dan saat ada kegiatan keagamaan lainnya.

Memang kedatangan ustad ke Pulau Pejantan terbilang jarang alias langka. Sebab terbatasnya akses ditambah jarak antar-daerah yang cukup jauh. Belum lagi ketika cuaca tidak baik. Masyarakat bisa terisolir sampai berbulan-bulan. "Ustad itu juga punya keperluan. Kadang bisa tertahan sampai dua bulan di Tambelan, tidak bisa kembali ke tempatnya bertugas," ungkap Mulyadi.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan telah berupaya memaksimalkan fungsinya agar daerah seperti Pulau Pejantan tetap mendapatkan sentuhan pendidikan. Lima ustad telah dikirim ke lima desa di Kecamatan Tambelan. Namun demikian, sangat sulit menempatkan pengajar tetap di Desa Pejantan karena lokasinya yang jauh.

Kemudian untuk akses pendidikan dasar, siswa di Pulau Mentebung dan Pulau Pejantan masih melaksanakan ujian di sekolah di Pulau Tambelan. Memang sudah ada bangunan sekolah di Pulau Mentebung. Namun kondisinya belum memungkinkan untuk pelaksanaan ujian. "Kalau ujian masih di sini (Tambelan). Di sana masih kesulitan proses belajar mengajar," beber Mulyadi.

(bbi/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up