JawaPos Radar

Minim Promosi, Desa Wisata di Jateng Melempem

08/09/2018, 16:05 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Pariwisata Karimunjawa
ILUSTRASI: Sebagian besar desa wisata di Jawa Tengah diklaim belum memiliki pola promosi yang layak. (Nur Chamim/Radar Semarang/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Sebagian besar desa wisata di Jawa Tengah diklaim belum memiliki pola promosi yang layak. Bahkan, dari sekitar 240-an desa wisata, hanya kurang dari sepuluh yang bisa dikata menonjol.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Kadispora) Jawa Tengah Urip Sihabudin mengatakan, untuk saat ini desa wisata yang bisa dibilang cukup baik kelangsungannya adalah Umbul Ponggok (Klaten), Kaliwlingi (Brebes) dan Karangjahe (Rembang).

"Dari sekitar 240-an desa wisata di Jateng, kurang dari sepuluh saja yang berkembang pesat atau dengan pendapatan sekitar Rp 5 miliaran setahun," ujar Urip kala dijumpai di Pasar Peterongan, Semarang, Sabtu (8/9).

Selain tiga desa wisata yang ia sebutkan menonjol tadi, ratusan sisanya menurut Urip masih terkendala pada sisi pemasaran. Ia menilai, promosi yang dilakukan pengelola saat ini masih belum optimal.

"Nyatanya sebagian besar dari ratusan desa wisata itu, baru sebagian yang dikunjungi wisatawan dari luar kabupaten. Lebih banyak mengandalkan warga sekitar dan itu pada saat akhir minggu atau liburan saja. Yang dari luar kabupaten atau provinsi baru 3 sampai 4 desa wisata," terangnya panjang.

Ia juga tak menampik bahwa banyak homestay yang telah dibangun menjadi terbengkalai sebagai dampak dari situasi ini. Oleh karenanya, Urip sangat menganjurkan para pengelola desa wisata guna bekerjasama dengan pihak biro wisata.

Urip yang menilai biro wisata sebagai pihak dengan jaringan dan pengalaman luas, mampu mendongkrak sistem promosi desa wisata. Dimulai dari pembuatan paket-paket kunjungan misalnya.

"Buat paket itu tidak gampang, pertama dari sisi aspek konten apa yang akan dijual. Kedua, aspek penuangan desainnya, supaya menarik seperti apa. Ketiga soal penunjang seperti bumbu-bumbu diskon dan sebagainya. Banyak masyarakat belum sampai ke situ, mereka baru tingkat woro-woro," jelasnya.

Padahal, pertumbuhan desa wisata di Jateng ini secara de facto atau yang mendapat SK Bupati cukuplah pesat, yakni 10 sampai 20 persen setahun dikarenakan persyaratannya yang memang sederhana. Namun, lanjut Urip, hal ini juga belum dibarengi dengan peningkatan kualitas desa wisata itu sendiri.

Urib menganggap, dibutuhkan pula improvisasi pada sisi sumber daya manusianya (SDM). Ia menambahkan bahwa saat ini para pemandu masih perlu banyak belajar tentang menggali daya tarik di daerah mereka sendiri.

"Ketika sudah banyak wisatawan, pemandunya otodidak. Mereka cuma tahu sejarah pertumbuhan daerah tersebut. Sementara yang bisa diandalkan tak cuma objek, tapi kehidupan masyarkat juga. Misal ada yang makan pecel, diceritakan itu asal dan bikinnya gimana. Itu namanya gastronomi dan untuk alur ini masyarakat banyak yang belum bisa," cetusnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up