Atasi Kekeringan, BPBD Jateng Siapkan Proyek Pipanisasi Air

08/09/2018, 14:37 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
ILUSTRASI: Fenomena kekeringan yang masih melanda sebagian besar wilayah Jawa Tengah membuat pemerintah melakukan langkah lanjutan. (dok. BNPB)
Share this image

JawaPos.com - Fenomena kekeringan yang masih melanda sebagian besar wilayah Jawa Tengah membuat pemerintah melakukan langkah lanjutan. Selain terus mengirimkan dropping air bersih, program pipanisasi juga disiapkan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sarwa Pramana mengatakan bahwa bantuan pipanisasi sedianya sudah diterapkan di Boyolali. Bantuan pipanisasi sepanjang 4 kilometer diserahkan secara langsung kepada wakil bupati setempat beberapa waktu lalu.

"Saya mintakan kembali pipanisasi untuk Kabupaten Banjarnegara. Mudah-mudahan bisa dibantu lagi," ujarnya ketika ditemui di Komplek Gubernuran, Semarang, Sabtu (8/9).

Menurut Sarwa, dana BPBD Jateng sebesar Rp 600 juta yang sebelumnya belum tersentuh sama sekali, bakal mulai dipakai untuk mengirimkan dropping air ke sejumlah daerah terdampak kekeringan. "Seperti misal di Kendal, Temanggung, Kabupaten Semarang dan Ungaran," sambungnya.

Namun demikian, meski belum bisa mengatakan bahwa musim kemarau telah habis masanya, Sarwa mengungkap beberapa daerah di Jateng sudah mulai dituruni hujan. Untuk itu, konsentrasi BPBD saat ini juga sudah dibagi, terutama mengantisipasi bencana yang ditimbulkan akibat datangnya musim penghujan.

"Kemarau kan bikin tanahnya retak dan kalau dihantam hujan ini khawatirnya kami bisa terjadi longsor. Banjarnegara masih rawan. Lalu Wonosobo, Kebumen, dan Cilacap juga," terangnya.

Sarwa menyebut kalau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis peringatan akan hal ini. Sebagai langkah antisipatif, rapat koordinasi dengan jajaran terkait sudah terlaksana, dimana diputuskan untuk disampaikan hingga ke tingkat desa rencana penanggulangan terkait perubahan cuaca dadakan ini.

Respon cepat masyarakat dalam hal ini menurutnya sangatlah dibutuhkan. Artinya, mereka harus tahu kapan waktu yang tepat untuk meninggalkan kediaman masing-masing ketika tanda bencana terdeteksi.

”Segera saja, karena tanda-tandanya sendiri kan sudah diketahui. Kalau air hujan sudah keruh dan ada suara gemuruh pasti mereka tahu akan ada longsor,” tandasnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi