JawaPos Radar

ABK Asal Indonesia Tidak Tahu Kerja di Kapal Buronan Interpol

08/04/2018, 07:30 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Kapal Interpol
Santoso seorang ABK STS-50 memberikan keterangan kepada angamarbar Laksamana Muda TNI Yudo Margono di Lanal Sabang Lanal Sabang, Aceh, Sabtu (7/4). (Murti Ali Lingga/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Anak buah kapal (ABK) STS-50 asal Indonesia yang ditangkap TNI Angkatan Laut (AL) mengaku tidak tahu dirinya bekerja di kapal buronan polisi internasional (Interpol). Sebelumnya kapal berbendera Togo ini diciduk TNI AL pada Jumat (6/4) sekira pukul 16.15 WIB.

"Awalnya nggak tahu kapal ini ilegal. Tahunya ilegal setalah ditangkap di China pertama kali," kata Santoso, seorang ABK STS-50 kepada wartawan di Lanal Sabang, Sabtu (7/4).

Santoso mengungkapkan, setelah ditangkap dirinya baru mengetahui kapal tempatnya bekerja telah melakukan sejumlah pelanggaran. Seperti ilegal fishing, tidak memiliki dokumen resmi dan sejumlah pelanggaran lainnya.

Kapal Interpol
Puluhan ABK asal Indonesia tidak mengetahui kapal tempatnya bekerja menjadi buronan Interpol (Murti Ali Lingga/JawaPos.com)

"Kami memburu ikan seperti ikan gabus. Tapi saya nggak tahu jenis dan nama ikannya. Ikan yang hidup di dasar laut," ungkap pria asal Jawa Tengah ini.

Dia menjelaskan, selama bekerja dan melakukan aktivitas kapal ini tidak pernah singgah atau sandar di pelabuhan sebuah negara. Mereka hanya melakukan pelayaran menangkap ikan di parairan dan berpindah-pindah negara.
 
"Penebaran jaring dilakukan di daerah laut antartika. Saya sudah ikut berlayar ke Vietnam, Fhilipina, China, perairan Korea, perairan Jepang, perairan Rusia, Madagascar, Mozambik," sebutnya.

Ia menambahkan, pernah suatu waktu kapal mereka akan singgah dan menjual ikan ke Vietnam nanum gagal kerena tidak memperoleh izin. Setalah itu, mereka memutuskan berangkat dan merapat China hingga akhrnya ditangkap otoritas setempat.

"Kemarin di Vietnam nggak bisa jual ikan. Yang bisa itu di China. Kami juga pernah singgah singgah di perairan Malaysia, tapi cuma mengambil jaring," terangnya.

Santoso mengakui dirinya sudah bekerja di kapal STS-50 tersebut selama 10 bulan sejak bergabung 2017 lalu. Akivitas penangkapan ikan yang pernah dilakukannya pada Januari, Feberuari, dan Desember 2017. Selama bekerja ia dan rekan-rekannya tidak pernah mendapat tindakan kekerasan. "Kerjanya seperti biasa, nggak kekerasan," pungkasnya.
 
Sementara itu, Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangamarbar) Laksamana Muda TNI Yudo Margono menjelaskan, kapal STS-50 ini ditangkap karena menjadi buronan interpol. Selain itu juga telah melakukan ilegal fishing.
 
"Kapal ini kita tangkap kerana jadi target operasi (TO) Interpol. Kapal ini pernah melarikan diri dari China pada Oktober 2017 dan Februari 2018 juga melarikan diri Mozambik," kata Pangamarbar Laksamana Muda TNI Yudo Margono kepada awak media di Lanal Sabang, Sabtu (7/4).

Yudo mengatakan, penangkapan kapal ini dilakukan dengan menggunakan KAL Simeulue dari Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Sabang. Karena kapal ini diketaui sudah lama menjadi buruan Interpol karena aktivitasnya melanggar hukum.

"Sehinggga atas pelarian kapal tersebut, dari pihak Interpol meminta negara-negara mana pun yang dilintasi kapal ini harus menangkapnya," ujar dia.

Dia menambahkan, selain menjadi buruan Interpol kapal STS-50 ini juga melakukan penangkapan ikan secara ilegal atau ilegal fishing. Bahkan kapal ini tidak memiliki dokumen resmi dan izin penagkapan ikan.

"Jadi, dugaan pertama adalah ilegal fishing karena menangkap ikan tanpa izin. Setelah kita cek memang tidak memiliki dokumen resmi. Alat tangkapnya jenis Gill Net," ungkapnya.

Ia menambahkan, sebelum menangkap kapal ini pihaknya sudah melakukan pemantauan dan memetakan posisi pergerakan kapal asing ini. Ketikan mengetahui letak persis kapal buronan Interpol ini langsung dilakukan penangkapan saat berada di perairan wilayah Aceh.

Kapal STS-50 ini diketahui memiliki 30 orang kru atau anak buah kapal (ABK). Masing-masing 20 warga negara Indonesia, 2 asal Ukrainan, dan 8 asal Rusia.

(mal/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up