alexametrics

Ayah Aldama Putra Yakin Anaknya Dikeroyok, Tak Mungkin Pelaku Tunggal

8 Februari 2019, 08:15:00 WIB

JawaPos.com – Kematian Aldama Putra menyisakan kenangan tersendiri bagi orang tuanya, Daniel Pongkala. Dia bersama istrinya, Mariati, mengaku tak pernah melupakan momen bahagia ketika kelulusan Aldama masuk kampus pilihannya, Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar.

Ketika itu, Mariati menangis haru setelah mengetahui salah seorang pria berseragam ATKP adalah putranya, Aldama. Dia bahkan nyaris tak mengenali anaknya sendiri. Saat Aldama menyapa, Mariati langsung mencurahkan air mata dan memeluk tubuh kekar anaknya. Tangannya tak henti dada dan lengan putra semata wayangnya itu.

“Istri saya hampir tak mengenali Dama (panggilan akrab Aldama Putra, red). Kan, sehabis pelatihan dengan tentara selama sebulan lebih dan dinyatakan lulus, tubuhnya berubah tegap dan padat begitu. Terus, kulitnya juga hitam sekali. Semua taruna baru mukanya sama karena hitam. Padahal, waktu keluar rumah, masih putih sekali,” kenang Daniel, berusaha menguatkan hatinya.

Taruna ATKP Tewas, Aldama Putra, ATKP Makassar
Taruna ATKP Makassar Aldama Putra yang diduga tewas dianiaya seniornya. (Istimewa)

Momen bahagia itu juga mengundang haru bagi Daniel. Kebanggaan langsung tercurah untuk putra kesayangannya. Ia langsung dielu-elukan keluarga besarnya karena Dama berhasil lolos dari ujian masuk akademi bergengsi di Kota Makassar. Apalagi, Dama sebelumnya juga nyaris menjatuhkan pilihan mendaftar TNI.

Tak ada yang bisa membaca garis waktu. Baru enam bulan berjalan, air mata kembali membanjiri pipi Mariati. Seolah palu godam menghantam separuh kesadarannya. Beberapa kali ia kehilangan kesadarannya.

Doa dan istigfar terus dirafal untuk anaknya yang memiliki keyakinan berbeda dengannya. Cinta dan kasih kemanusiaan, menembus segala batas logika dan agama.

“Memang masih sempat syok berat. Sekarang sudah bisa terima tamu ibu-ibu yang datang ke rumah. Sudah bisa sedikit cerita-cerita. Apalagi, istri saya minta agar ada Yasinan selama tiga hari, meskipun anak saya dikuburkan sesuai keyakinannya (kristen),” tutur Daniel kepada FAJAR (Jawa Pos Group), Kamis (7/2).

Tak Masuk Akal

Daniel terus memantau perkembangan kasus penganiayaan yang menewaskan anaknya. Polrestabes Makassar memang sudah menjaring satu tersangka.

Hanya saja, anggota TNI AU itu enggan percaya dengan hasil tunggal itu. Dia meyakini, masih ada tersangka lain menjadi penyebab Aldama meninggal.

“Tidak satu yang pukul anak saya itu. Tidak masuk akal. Jadi tolong jangan ditutup-tutupi. Pelaku (tersangka, red) juga bodoh kalau tidak ngomong siapa teman-temannya yang ikut memukul anak saya,” ucap lelaki berpangkat Pelda ini.

Ia menerangkan, luka-luka di tubuh Dama menunjukkan penganiayaan oleh banyak orang. Bukan pula luka-luka lama. Semuanya luka baru. Dia begitu yakin, lantaran pertemuan terakhir dengan anaknya juga tidak menunjukkan luka segores pun .

“Kalau satu orang saja yang mukul, kecuali dia mukul terus-terusan sampai beberapa jam, ya mungkin mati. Tapi kan yang mukul itu manusia, punya rasa kasihan juga dalam hatinya. Kecuali yang mukul itu binatang tidak ada rasa kasihan, bisa lah mati. Tapi yang ini banyak sekali lukanya,” paparnya.

Oleh karena itu, ia kukuh menganggap anaknya dikeroyok. Anaknya sudah dibekali dengan teknik bela diri karate langsung darinya. Tentunya, kata Daniel, anaknya pasti tidak akan akan rubuh berhadapan dengan satu orang. Ia menduga, Dama tak berkutik hanya gara-gara labelnya yang masih junior.

“Hukum itu tidak mengenal kasta. Jangan bilang kalau ini anaknya pejabat, anaknya siapa. Tetap harus ditegakkan,” tegas Daniel, yang masih sibuk menerima beberapa tamu yang datang melayat.

Hanya saja, pihak kepolisian masih kukuh dengan hasil interogasi terhadap tersangka tunggal itu. Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Wahyu Dwi Ariwibowo sebenarnya belum memastikan hasil tunggal itu lantaran masih menunggu hasil otopsi.

Hingga kini, pihaknya belum menerimanya. Sementara beberapa barang bukti yang sudah diamankan dan saksi-saksi hanya mengarah pada tersangka Muhammad Rusdi.

“Belum ada (hasil otopsi). Tunggu saja,” kata Wahyu. Tidak menutup kemungkinan, hasil otopsi itu bisa mengarah ke tersangka baru.

Pihak kampus ATKP Makassar juga bergeming dengan sanksi skorsing bagi tersangka Muhammad Rusdi. Direktur ATKP Makassar Agus Susanto mengatakan, sanksi skorsing untuk membantu kepolisian memperlancar proses hukum.

“Menetapkan saudara Muhammad Rusdi diberikan sanksi skorsing sampai dengan adanya kekuatan hukum tetap,” tandasnya.

Editor : Fadhil Al Birra

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Ayah Aldama Putra Yakin Anaknya Dikeroyok, Tak Mungkin Pelaku Tunggal