JawaPos Radar

Dahlan: Silakan Keluar dari Media dan Mendirikan Dot Com

08/02/2018, 17:57 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Dahlan Iskan
Dahlan Iskan saat memaparkan peluang dan tantangan media online dan cetak dalam diskusi Konvensi Nasional Media Massa di Padang, Kamis (8/2). (Riki Chandra/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com – Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan hadir dalam diskusi Konvensi Nasional Media Massa. Rangkaian kegiatan perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 itu berlangsung di aula Hotel Inna Muara, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Kamis (8/2).

Pada kesempatan ini, Dahlan banyak menyoroti pertumbuhan media online yang kian pesat bak jamur di musim penghujan. Jumlah media online sudah lebih banyak dari media cetak.

Namun menurut Dahlan, hal itu masih belum seberapa. Akan banyak lagi media-media online yang terus tumbuh dan bersaing di Indonesia. Menariknya, 70 persen pemilik media cyber berasal dari wartawan surat kabar.

Dahlan Iskan
Dahlan Iskan. (Kris Samiaji/Sumatera Ekspres/Jawa Pos Group)

Berbagai faktor yang mendorong pelaku pers lari dari surat kabar menuju online. Mulai dari surat kabar tidak maju, pimpinannya kurang inovatif dan tidak bisa diandalkan, hingga masalah kesejahteraan.

Anggap saja untuk mendirikan media online atau dot com membutuhkan biaya sekitar Rp 10 juta. Namun pendapatan yang dihasilkan bisa lebih dari itu. "Bekerjanya bisa sendirian. Dibantu istri atau anaknya yang masih kuliah," tutur mantan CEO Jawa Pos Group tersebut.

Kondisi tersebut dianggap lebih baik dibanding bekerja di perusahaan media cetak dengan gaji Rp 2 juta atau lebih per bulan. Atau bahkan tidak digaji sama sekali.

Menurut Dahlan, keputusan melahirkan media online seperti itu adalah langkah yang terbaik untuk saat ini. “Silakan saja, masing-masing keluar dari medianya dan mendirikan dot com sendiri-sendiri. Sebab sekecil-kecil pendapatannya dari dot com, masih lebih besar dari gajinya yang Rp 2 juta, misalnya. Bisa pula membanggakan diri sebagai bos dot com, pemilik media itu. Eksistensinya sebagai wartawan juga terawat,” terang Dahlan.

Menjamurnya media online juga perlu dikhawatirkan perusahaan media cetak. Sebab ke depan bisa saja akan lebih banyak wartawan dan redaktur media cetak yang berhenti dan mendirikan media online. “Ini tantangan media cetak. Itu menurut saya biasa saja. Karena perubahan akan terus berjalan, sehingga pada akhirnya persaingan ini akan sangat bebas,” tukas Dahlan.

“Lakukan apa yang penting Anda lakukan saat ini. Yang penting niatnya baik untuk menghidupi anak, istri, dan keluarga. Menjaga eksistensi diri sebagai wartawan. Terpenting jangan memeras, melanggar kode etik jurnalistik,” imbuh Dahlan Iskan.

Lebih lanjut, Dahlan menekankan bahwa perkembangan zaman sudah cukup pesat. “Kabar buruknya, kemajuan zaman hari ini membuat kita sulit memprediksi masa depan. Karena perubahan melaju begitu cepat. Kabar baiknya, semua orang tidak tahu masa depan. Jadi adil. Yang pintar tidak tahu, yang bodoh juga tidak tahu,” cetus Dahlan disambut riuh tepuk tangan ratusan tokoh pers dan wartawan yang hadir.

Dengan kemajuan zaman yang cepat, setiap orang tidak perlu terlalu banyak mendengar nasihat. Tidak perlu banyak mendengar prediksi hingga perencanaan jangka panjang. “Tidak bisa, karena perubahan terlalu cepat,” tegas Dahlan yang lagi-lagi membuat ratusan hadirin terpingkal-pingkal.

Sementara itu, acara diskusi dihadiri sejumlah tokoh pers nasional. Tampak hadir pula Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara serta Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

(ce1/rcc/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up