alexametrics
Kasus Suap Bupati Purbalingga

Wayangan, Kode Tasdi Minta Uang Suap Proyek Islamic Center

7 November 2018, 21:05:27 WIB

JawaPos.com – Tiga saksi kunci kasus suap dan gratifikasi terdakwa Bupati Purbalingga Nonaktif, Tasdi diperiksa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Rabu (7/11). Dalam sidang tersebut, terungkap kode ‘wayangan’ yang digunakan Tasdi untuk meminta suap.

Tiga saksi kunci tersebut antara lain adalah terpidana kasus suap kepada Tasdi, yakni pengusaha Librata dan Ardirawinata Nababan serta Hamdani Kosen. Sidang ini sendiri dipimpin oleh Hakim Ketua Antonius Widijantono.

Kode wayangan terungkap kala Librata dimintai keterangan. Ia menyebut itu adalah kode untuk meminta fee dari kontraktor pelaksana proyek pembangunan Islamic Center Purbalingga tahap II, Hamdani Kosen.

Permintaan berbalut kode itu disampaikan terdakwa Tasdi kepada Librata selaku rekan Hamdani kala bertemu di rumah makan Garuda di Jakarta 3 Mei 2018 lalu. Dimana di situ juga hadir Ardirawinata dan Kepala Bagian Unit Layanan Pengadaan (ULP) Hadi Iswanto. 

“Saya tidak bisa berbahasa Jawa. Jadi perkataan terdakwa saya tanyakan kembali kepada Pak Hadi,” kata Librata. Hadi menjelaskan bahwa Tasdi minta Rp 25 juta agar proyek pembangunan Islamic Center Purbalingga tahap II bisa didapat Hamdani.

Librata kemudian menyampaikan permintaan fee tersebut kepada Hamdani. “Kemudian saya koordinasikan dengan Hamdani Kosen untuk persiapan fee,” sambungnya.

Sehari berselang, Hamdani melalui Librata menyerahkan uang sebesar Rp 15 juta dari jumlah yang diminta. Dan diserahkan kepada ajudan terdakwa, yakni Teguh Priyono bertempat di belakang pendopo Bupati Purbalingga.

Tanggal 16 Mei 2018, kembali dilakukan pertemuan antara terdakwa Tasdi, Hadi dan Librata di Hotel Borobudur, Jakarta. Masih dengan agenda membahas proyek pembangunan Islamic Center Purbalingga tahap II. 

Librata kemudian membeberkan bahwa saat itu, terdakwa Tasdi meminta uang fee sebesar Rp 500 juta untuk proyek tersebut. Hamdani namun merasa keberatan saat diberitahu soal hal itu. Sehingga hanya memberi Rp 100 juta sebagai komitmen awal.

“Totalnya Rp 115 juta. Yang Rp 15 juta saat beliau minta uang untuk wayangan. Yang Rp 100 juta itu, setelahnya,” ujarnya lagi.

Sedangkan Ardirawinata Nababan pribadi tak membantah jika dibilang dirinya ikut membantu Librata dalam upaya memenangkan lelang proyek Islamic Center tahap II. “Saya membantu ayah saya, agar lelang ini dimenangkan perusahaan Pak Hamdani,” akunya.

Diakuinya pula perannya sebagai pemberi informasi ke panitia lelang proyek tersebut. “Pak Hamdani punya tim yang meneliti kelemahan lawan lelang. Info itu saya terima dan sampaikan ke panitia,” ujarnya lagi.

Diberitakan sebelumnya, Bupati Purbalingga nonaktif Tasdi didakwa menerima suap dan gratifikasi total senilai Rp 1,4 miliar dan USD 20 ribu. Dakwaan kumulatif diberikan menyusul hasil pengembangan operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  yang menjaring Tasdi dan Hadi Iswanto pada 4 Juni 2018 lalu. 

Barang bukti berupa uang Rp 100 juta juga ditemukan KPK. Uang sebesar itu diduga sebagai komitmen fee proyek pembangunan Islamic Center Purbalingga. Dengan total yang dijanjikan senilai Rp 500 juta.

Sederet nama yang ikut terseret dalam kasus ini antara lain Hadi Iswanto yang sudah divonis bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang. Dia dijatuhi  hukuman 4 tahun penjara. Lalu trio pengusaha Hamdani Kosen, serta Librata dan Ardirawinata Nababan masing-masing dikenai 3,5 tahun penjara.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (gul/JPC)

Wayangan, Kode Tasdi Minta Uang Suap Proyek Islamic Center