JawaPos Radar

Safari Jokowi dan Prabowo di Jatim Dinilai Sia-sia

07/09/2018, 15:53 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Pilpres 2019
ILUSTRASI: Pilpres 2019 (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Dua bakal calon presiden melakukan kunjungan ke Jawa Timur (Jatim), Kamis (6/9) kemarin. Adalah Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Keduanya sama-sama menemui tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Jokowi menemui KH. Asep Saifuddin Chalim. Sedangkan Prabowo mengunjungi Ponpes Tebu Ireng, Jombang, sekaligus ziarah ke makam para pendiri NU.

Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam menilai, safari kedua bakal capres tersebut gagal dan sia-sia. Sebab dari berbagai agenda yang dilakukan tidak mampu memberikan jejak yang bisa menambah dukungan elektoral bagi Jokowi maupun Prabowo.

"Sebagai sebuah panggung teater politik, keduanya baik Pak Jokowi maupun Pak Prabowo, belum bisa maksimal untuk meraih perhatian publik. Masih kurang sentuhan kreasi dan minimalis. Tidak ada hal baru dan strategis untuk perang narasi pemanasan pilpres. Masih biasa dan belum ada efek kejutnya," kata Surokim kepada JawaPos.com, Jumat (7/9).

Meski demikian, Surokim memaklumi upaya yang dilakukan Jokowi maupun Prabowo. Jatim sebagai kantong besar NU menjadi zona paling strategis untuk diperebutkan. Sehingga sangat wajar jika Jokowi maupun Prabowo berusaha semaksimal mungkin menggaet para tokoh NU.

"Keduanya ingin menempuh jalan kultural dalam meraih suara pemilih di Jatim. Keduanya masih berusaha merebut efek tokoh nahdliyin kultural Jatim. Itu memang strategis. Bagaimanapun, saat ini kekuatan Nahdliyin kultural lebih kuat mengambarkan arus bawah dan pemilih menengah NU yang dinamis," terang peneliti dari Surabaya Survey Center (SSC) itu.

Menurut Surokim, tokoh-tokoh NU struktural di Jatim hampir dipastikan mendukung Jokowi. Hal ini tidak lepas dari sosok KH. Ma'ruf Amin yang ditunjuk menjadi pasangan Jokowi.

Meski begitu, bukan berarti tidak ada peluang bagi Prabowo. Pasalnya, NU kultural yang jumlahnya cukup banyak akan menjadi peluang emas bagi Prabowo jika bisa melakukan pendekatan yang tepat.

Surokim lantas mengacu pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim lalu. Kiai struktural NU solid mendukung Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Sedangkan Khofifah mampu meraup dukungan dari NU kultural.

"Jika kiai struktural hampir pasti menuju Pak Jokowi karena ada faktor kiai Ma'ruf dan efek soliditas akibat kekalahan dalam Pilgub Jatim. Maka kiai kultural menjadi barang manis yang masih bisa diperebutkan," imbuhnya.

"Sesunguhnya ini hanya permainan perang udara mindpower perebutan efek psikologis Pilgub Jatim. Yang tergambar diberbagai media memperlihatkan incumbent tidak cukup leading meninggalkan penantang dalam menembus psikologis pemilih di Jatim," pungkas Surokim.

(mkd/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up