JawaPos Radar

PSI: OK OCE Hanya Gimik Marketing Politik

07/09/2018, 15:15 WIB | Editor: Ilham Safutra
PSI: OK OCE Hanya Gimik Marketing Politik
OK Oce Mart yang masih beroperasi di Kemayoran, Jakarta Pusat. (Issak Ramadhani/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Tutupnya OK OCE Mart di Kalibata, Jakarta Selatan sontak menjadi pembicaraan dari publik. Sebab sang inisiator dari OK OCE itu mantan Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno yang kini menjadi bakal calon wakil presiden (bacawapres).

"Sejak awal memang OK OCE hanya gimik marketing politik. Tidak ada keseriusan dan profesionalisme pengelolanya atau yang punya ide dan gagasan,” ujar Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bidang Ekonomi, Industri, dan Bisnis Rizal Calvary Marimbo dalam keterangan persnya yang diterima JawaPos.com, Jumat (7/9).

Lebih jauh Rizal menuturkan, gimik-gimik marketing demikian memang hanya sesaat. Begitu agenda politik selesai, maka gimik-gimik itu ditinggalkan begitu saja. Sebab tidak ada rencana bisnis dan implementasi yang fundamental dilakukan oleh pengelolanya.

PSI: OK OCE Hanya Gimik Marketing Politik
Infografis OK OCE (Kokoh Praba/JawaPos.com)

Rizal berpendapat, membangun ritel modern dan minimarket saat ini tidaklah mudah. Persaingan di industri ini sudah sangat berat. Pangsa pasar industri ini sudah dikuasai para pemain lama, sehingga new comers seperti OK OC akan susah bersaing. Apalagi para pengurus OK OCE rata-rata bukan dari kalangan profesional dan diisi oleh aktivis-aktivis politik. "Yang dikelola secara profesional saja tutup apalagi yang hanya gimik politik,” ucap dia.

Rizal mengatakan, OK OCE tidak mungkin akan memberikan harga yang lebih kompetitif dibandingkan pemain-pemain besar. Sebab pemain-pemain besar sudah memiliki manajemen rantai pasok barang yang kuat dan besar. "Logikanya kan bagaimana pabrik atau pemasok bisa kasih harga bagus ke jaringan minimarket yang cuma satu atau dua gerai. Sedangkan pemain lama, selain belanjanya besar. Mungkin dia juga sudah locked atau teken kontrak untuk sekian tahun ke depan,” ujar Rizal.

Di pihak lain, Ketua Pergerakan OK OCE (PGO) Faransyah Jaya mengaku, tutupnya OK OCE selain disebabkan oleh uang sewa yang tidak terbayarkan, juga ada kesalahan yang sejak awal menjalankan bisnisnya.

"Jadi salah satu kelemahan di Kalibata, mereka tidak melakukan feasibility study, ramai nggak sih traffic-nya jadi ya asal buka saja," tutur Faran di Mal Pelayanan Publik, Jakarta Selatan, Kamis (6/9).

Akan tetapi Faran menegaskan, tujuan didirikannya gerakan OK OCE ini untuk mensejahterakan rakyat lewat bisnis. Hal itulah yang menyebabkan konsep OK OCE berubah menjadi social enterprise.

(iil/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up