JawaPos Radar

Kisah Mahasiswa Asing yang Belajar di UMM

Kepincut dengan Budaya Indonesia, Fouly Rela Tinggalkan Mesir

07/09/2018, 21:50 WIB | Editor: Dida Tenola
Kepincut dengan Budaya Indonesia, Fouly Rela Tinggalkan Mesir
Mohamed Ali Galal El Fouly (kiri) (Tika Hapsari/ JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com- Sebanyak 27 mahasiswa dari luar negeri belajar budaya dan bahasa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya, Mohamed Ali Galal El Fouly, mahasiswa asal Mesir. Fouly mengaku cinta Indonesia. Seperti apa ceritanya? 

Dian Ayu Antika Hapsari, Malang

Kepincut dengan Budaya Indonesia, Fouly Rela Tinggalkan Mesir
Para mahasiswa asing yang belajar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) (Tika Hapsari/ JawaPos.com)

Pemuda dari beragam negara tampak ceria mengambil setiap momen yang mereka jalani di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (7/9). Kenapa bisa saya simpulkan mereka berasal dari luar negeri?

Mudah saja. Lihat saja pakaian yang mereka kenakan. Ada yang mengenakan kain sari, pakaian khas India. Ada juga laki-laki yang mengenakan busana khas Korea Selatan berwarna biru. 

Lalu ada dua perempuan berwajah oriental  yang memakai busana warna kuning blewah. Baju panjang dengan potongan yang pas dengan bentuk tubuh itu disebut ao dai. Pakaian itu merupakan baju tradisional dari Vietnam.

Ya, seperti itulah gaya pakaian mereka saat berada di lingkungan kampus UMM. Mereka adalah mahasiswa asing dari sepuluh negara. Selama satu tahun, 27 orang peserta program Darmasiswa dan Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Rinciannya, 19 peserta program Darmasiswa dan 8 adalah peserta KNB.

Dari sekelumit percakapan yang saya dengar, meskipun baru hari pertama belajar di UMM, mereka sudah bisa bercakap kalimat sederhana dengan bahasa Indonesia.

Salah satu peserta yang paling fasih berbahasa Indonesia adalah Mohamed Ali Gilal El Fouly (dibaca: Fuli). Pria berkacamata dengan wajah khas timur tengah itu begitu lancar berbahasa Indonesia.

Bukan hanya bahasa sederhana saja, namun sudah ke percakapan sehari-hari. Walau tetap, aksen bule ala timur tengahnya belum bisa dihilangkan sepenuhnya. "Halo, perkenalkan nama saya Fouly dari Mesir," katanya memperkenalkan diri dengan Bahasa Indonesia yang fasih.

Fouly mengaku, sudah lima tahun belajar Bahasa Indonesia. Dia belajar di pusat bahasa dan kebudayaan Indonesia, tak jauh dari rumahnya di Kairo, Mesir.

Ketertarikannya dengan Indonesia berawal saat merasakan keramahan dan kesopanan mahasiswa Indonesia di Mesir.warga Indonesia yang ditunjukkan oleh para mahasiswa. Kata Fouly, sekitar 5.000 mahasiswa Indonesia menuntut ilmu di salah satu kampus tertua di dunia,  Universitas Al Azhar. "Ketika melihat mereka di jalan, orang Indonesia sangat sopan dan ramah. Saya jadi tertarik," ucap mahasiswa Universitas Kairo itu.

Fouly mengaku sudah empat kali menjejakkan kakinya di tanah air. "Saya pikir kenapa tidak manfaatkan saja fasilitas di dekat rumah saya. Daripada hanya penasaran saja," ceritanya.

Dia memanfaatkan pusat studi bahasa dan budaya yang tidak jauh dari rumahnya. Setelah dipelajari, Fouly semakin jatuh cinta. Menurutnya, bahasa Indonesia mudah dipahami. 

Apalagi keragaman budaya dan bahasa di Indonesia. Bukan rahasia lagi jika Indonesia kaya adat, bahasa dan budaya. Negeri ini memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, ratusan suku dan budaya.

Kondisi Indonesia, menurut Fouly, sangat jauh berbeda dengan Mesir. Indonesia memiliki bahasa dan adat serta budaya yang berbeda dari satu tempat dan tempat lainnya. "Di Indonesia, setiap pulau punya bahasa dan budaya sendiri," ujarnya antusias. 

Kecintaanya dengan budaya dan bahasa Indonesia ini membuatnya gemar mengikuti program dari pemerintah Indonesia. Program itu, membawa dia ke negeri lain yang dia cintai selain Mesir.

Empat kali dia ke Indonesia. Kali pertama Juli 2016 melalui program Explore Indonesia. Selama dua minggu, mahasiswa yang memilih Fakultas Darul Ulum selama di UMM itu suka menjelajah tempat-tempat di Indonesia."Cantik, bagus. Saya suka pemandangannya dan semua budaya," lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM Dr Arif Budi Wurianto menjelaskan, kedatangan mahasiswa asing ini sudah dibuka dengan penyambutan yang digelar Jumat, pagi tadi. Mahasiswa itu berasal dari Korea Selatan, Vietnam, Thailand, India, Papua Nugini, Mesir, Amerika Serikat, Afganistan, Ukraina, Kamboja dan Thailand.

Nantinya, 27 mahasiswa itu akan belajar bahasa dan budaya selama satu tahun.  Khusus bagi peserta KNB, mereka juga akan kuliah jenjang S1 dan S2 di UMM, dengan program beasiswa. "Kami sudah merancang program untuk lebih mengenalkan mereka dengan budaya dan bahasa Indonesia," kata Arif.

Arif menjelaskan, para mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, namun juga akan mendapat pengetahuan di luar kelas. Misalnya saja mengunjungi lokasi wisata, situs sejarah dengan skala lokal dan nasional.

Menjelang akhir  program, para mahasiswa akan diajak untuk tinggal bersama di rumah warga. Batu menjadi lokasi yang dipilih.

Tujuan untuk mengajak mahasiswa asing itu tinggal di rumah warga, agar mereka benar-benar merasakan kehidupan Indonesia yang sesungguhnya. "Jadi mereka akan ikut ke pasar, bertani, berkebun dan kegiatan sehari-hari lainnya," pungkas Arif. 

 

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up