JawaPos Radar

Jokowi Diserang Kritikan Dolar Naik, PDIP: Salah Tafsir

07/09/2018, 20:50 WIB | Editor: Budi Warsito
Jokowi Diserang Kritikan Dolar Naik, PDIP: Salah Tafsir
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. (Dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menganggap lumrah rentetan serangan dalam bentuk kritik kepada Presiden Joko Widodo. Terutama yang sedang gencar saat ini adalah soal melemahnya nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar. 

Wakil Bendahara Umum DPP PDIP, Juliari Pieter Batubara menilai, gencarnya kritik soal melemahnya Rupiah terhadap Dolar sebagai hal wajar. Bahkan, ada kenaikan harga sedikit saja, menurutnya sudah bisa dijadikan senjata menyerang. 

"Namanya juga tahun politik. Kalaupun satu Dolar jadi lima belas ribu Rupiah, siapa sih yang kena? Rakyat kecil? Bukan kan?" katanya saat dijumpai di Kantor Kecamatan Semarang Barat, Jumat (7/9).

Juliari menilai, yang terdampak kenaikan Dolar ini adalah kelompok tertentu saja. Seperti orang Indonesia yang bepergian atau menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Atau pada golongan pelaku ekonomi yang 80 persen bahan bakunya memakai barang impor.

Terkait penyebab naiknya dolar, Juliari menyebut ada dua faktor, yakni eksternal dan internal. "Faktor eksternal, yaitu tekanan negara berkembang yang ekonominya jelek seperti Turki, Argentina dan Brazil. Pemain uang dunia menyamaratakan, dia lihat negara berkembang yang ekonominya sama negara itu, Indonesia. Dia tarik Dolar-Dolarnya ke negara yang lebih aman," terangnya panjang.

Sementara faktor internal, Juliari menyebut, neraca perdagangan di Indonesia saat ini masih minus. Artinya tingkat impor lebih besar daripada ekspor. Kondisi ini sudah terjadi sejak 10 tahun belakangan.

"Pertumbuhan tinggi, tapi industri kita nggak kuat. Akhirnya impor banyak, makan aja impor kok. Beras, garam, gula impor. Ini kesalahannya siapa? Bukan Pak Jokowi (Joko Widodo). Kesalahan perencanaan dari dulu," tegasnya.

Yang perlu dikhawatirkan, lanjut Juliari, justru nilai inflasi tak terkendali dan bukan merosotnya nilai rupiah. Lantaran, apabila tingkat inflasi tinggi, yang kena adalah seluruh lapisan masyarakat.

"Aku tanya balik, inflasi sekarang kita bagaimana? Sangat bagus kan? Harganya juga relatif stabil, kebutuhan pokok, harga BBM juga. Nah kalau negara sudah seperti Turki, Argentina, Brazil itu mata uangnya melemah, inflasinya juga sampai dua digit, kena se-negaranya, kita itu kan cuman mata uangnya," paparnya.

Sehingga, dirinya pun menegaskan bahwa banyak dari isi kritikan kepada pemerintahan Jokowi yang telah salah menafsirkan dalam menganalisa dampak pelemahan rupiah tersebut. Ia memastikan kalau mayoritas rakyat dan industri di Indonesia belum terimbas.

"UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) dan rakyat secara keseluruhan tidak kena kena. Yang paling bahaya jika inflasi itu tak terkendali. Tapi inflasi kita kan juga cuma tiga persen," cetusnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up