alexametrics

Baru Dilantik, Edy-Ijeck Didemo Soal Pencemaran PLTU

7 September 2018, 16:35:18 WIB

JawaPos.com – Kantor Gubernur Sumatera Utara (Sumut) diserbu massa dari penggiat lingkungan, mahasiswa dan masyarakat, Jumat (7/9). Massa yang berjumlah ratusan ini, meminta pasangan Gubernur Sumut yang baru Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah mengevaluasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat.

Massa menolak PLTU karena, dianggap mencemari lingkungan. PLTU yang menggunakan batubara sebagai sumber energi pembangkit listrik itu telah mengancam ekosistem laut.

Manager Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Fhiliya Sinulingga mengatakan bahwa, PLTU unit 1 dan 2 di Pangkalan Susu harus dihentikan. Pasalnya, masyarakat menjadi sasaran ancaman dari dampak kerusakan lingkungan.

Baru Dilantik, Edy-Ijeck Didemo Soal Pencemaran PLTU
Aksi unjuk rasa penolakan PLTU Pangkalan susu yang digelar di Kantor Gubernur Sumut, Jumat (7/9). (Prayugo Utomo/JawaPos.com)

“Penggunaan batubara ini dinilai sangat berdampak buruk terhadap masyarakat, terutama nelayan dan petani,” katanya saat orasi, Jumat (7/9).

Dia memaparkan, ada beberapa desa yang terkena dampak pencemaaran. Desa tersebut antara lain, desa-desa seputaran Pulau Sembilan, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat.

“Kami meminta agar komitmen pemerintah untuk memenuhi kebutuhan listrik tidak dilakukan dengan menciptakan pencemaran lingkungan,” jelasnya.

Fhiliya juga mengungkapkan, ada lebih kurang 660 kepala keluarga (KK) yang mendapat listrik hanya 11 jam dalam sehari. Artinya, PLTU yang dibangun belum benar-benar memberikan dampak positif untuk masyarakat disekitar PLTU Pangkalan Susu.

“Dampak yang langsung dirasakan oleh masyarakat adalah pencemaran lingkungan sebagai imbas dari penggunaan batubara sebagai bahan bakar. Selain itu, air yang digunakan untuk proses pembangkitan tersebut juga langsung dibuang ke laut. Sehingga merusak ekosistem laut yang menjadi wilayah tangkap para nelayan,” katanya.

Ia mengapresiasi upaya pembangunan listrik melalui program Fast Track Project (FTP) yang diinisiasi oleh Pemerintah sebanyak 35 ribu Mega Watt selama kurun waktu lima tahun. Dimana langkah itu bertujuan untuk menuntaskan distribusi dan serapan listrik kepada masyarakat diberbagai daerah di Indonesia.

“Akan tetapi disisi lain, pembangunan pembangkit listrik yang saat ini dikerjakan diberbagai provinsi banyak menuai pro dan kontra akibat penggunaan batubara sebagai bahan utama pembangkit listrik yang dinilai kotor dan tidak ramah lingkungan,” tandasnya.

Editor : Budi Warsito

Reporter : (pra/JPC)


Close Ads
Baru Dilantik, Edy-Ijeck Didemo Soal Pencemaran PLTU