JawaPos Radar

Aksi Melawan Lupa 14 Tahun Kematian Munir di Titik Nol Medan

07/09/2018, 22:19 WIB | Editor: Budi Warsito
Aksi Melawan Lupa 14 Tahun Kematian Munir di Titik Nol Medan
Aksi mengenang tewasnya Munir di Medan, Jumat (7/9). (Prayugo Utomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Tugu titik nol Kota Medan terlihat ramai, Jumat (7/9) petang. Puluhan aktifis terlihat memakai topeng pegiat HAM Munir Said Thalib. Hal itu dilakukan, untuk mengenang Munir yang tewas diracun 14 tahun lalu.

Mereka menuntut, agar aktor utama kasus itu diungkap. Dalam aksi itu, massa membagikan bunga kepada pengendara jalan yang melintas di tugu di Jalan Balai Kota, Medan. Ada juga yang berorasi dan membuat musikalisasi puisi. 

Massa juga menggelar teatrikal yang bercerita tentang Munir. Dua orang berlakon menjadi Munir dan sang eksekutor. Munir diberikan segelas minuman. Kemudian matanya terbelalak. Lakon Munir kemudian terkapar. 

Aksi Melawan Lupa 14 Tahun Kematian Munir di Titik Nol Medan
Aksi mengenang tewasnya Munir di Medan, Jumat (7/9). (Prayugo Utomo/JawaPos.com)

Beberapa orang lalu menaburkan bunga. Suasana teatrikal pun makin kalut saat suara petikan gitar dan puisi dimainkan. Membuat bulu kuduk merinding melihat Munir terbaring bersama harapannya untuk menegakkan HAM. 

Putra Koordinator aksi menyebut, aksi yang dilakukan hari ini ingin mengingatkan kembali pada kasus kematian Munir. Karena sampai sekarang, pelakunya belum diungkap negara. 

"Kita tetap menolak luoa dengab apa yang di alami Munir. Negara harus segera membuka hasil penyelidikan Tim Pencari Fakta (TPF)," kata Putra disela aksi, Jumat (7/9).

Aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumut itu juga menjelaskan, selama ini kasus Munir belumlah selesai. Meskipun Pollycarpus salah satu aktornya sudah dihukum dan baru bebas murni beberapa waktu lalu. 

"Presiden harus membuka hasil TPF. Keadilan itu harus ditunjukkan oleh Presiden.

Sebelumnya, Pollycarpus Budihari Prijanto resmi bebas murni pada Rabu (29/8). Mantan pilot Garuda Indonesia (GI) itu, adalah salah satu aktor yang terlibat dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir.

Polly (panggilan Pollycarpus) yang divonis 14 tahun penjara oleh pengadilan mendapatkan pembebasan bersyarat dari Kementerian Hukum dan HAM pada 24 November 2014.

Sejumlah aktivis HAM merasa kecewa atas bebasnya Polly dari jeratan hukum. Pasalnya, pemerintah hingga saat ini belum kembali membuka hasil Tim Pencari Fakta Kasus Meninggalnya Munir (TPFKMM). Bahkan, komitmen Presiden Joko Widodo dalam menyelsaikan persoalan ini pun dipertanyakan. Pasalnya, kematian Munir termasuk dalam kasus pelanggaran HAM berat.

Direktur Lokataru, Haris Azhar menyatakan, pemerintah harus menyelesaikan kasus kematian Munir untuk memberikan keadilan terhadap istri Munir, Suciati, maupun kedua anaknya, Alif dan Diva.

Sehingga, lanjut Haris, Presiden Joko Widodo harus kembali membuka TPFKMM yang sebelumnya telah di serahkan pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 24 Juni 2005.

“TPFKMM itu sebetulnya ada levelnya Polly, Muchdi dan Hendropriyono. Terus dilaporan itu juga disebutkan institusi yang digunakan untuk menjadi pendukung terjadi pembunuhan terhadap Munir,” kata Haris.

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up