JawaPos Radar

Penerbangan Diminta Waspadai Angin Kencang

07/07/2018, 13:17 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Pesawat
Ilustrasi. (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Fenomena Aphelion sempat menggemparkan masyarakat Jawa Timur (Jatim). Khususnya mereka yang tinggal di wilayah dataran tinggi. Peristiwa penurunan suhu ekstrem tersebut diperkirakan hanya berlangsung sehari saja.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Juanda Teguh Tri Susanto mengatakan, fenomena itu hanya sebagai awalan saja. Maksudnya, Aphelion adalah bagian dari puncak musim kemarau.

Selebihnya, puncak musim kemarau ditandai dengan penurunan suhu di beberapa wilayah dataran tinggi. Diperkirakan, penurunan suhunya mencapai 13 derajat celsius.

Suhu yang lebih rendah juga diperkirakan terjadi di wilayah dataran tinggi dan pegunungan. Durasinya mulai Juli hingga Agustus mendatang. "Tapi itu penurunan suhu di luar fenomena Aphelion. Meski di beberapa dataran tinggi atau pegunungan, suhunya memang akan lebih rendah lagi," jelas Teguh dihubungi JawaPos.com, Sabtu (7/7).

Teguh melanjutkan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari fenomena Aphelion atau penurunan suhunya. Namun masyarakat perlu waspada terhadap kecepatan angin selama penurunan suhu pada puncak musim kemarau.

Terutama soal dampaknya terhadap transportasi udara atau penerbangan. Hembusan angin dapat menguntungkan laju pesawat saat take off atau lepas landas.

Tergantung dari arah angin yang sekiranya searah dengan posisi runway. Jika arah angin berhembus dari barat, take off pesawat juga dapat dilakukan dari arah yang sama. Begitu pula jika arah angin berhembus dari timur.

Di sisi lain, kecepatan angin dapat membahayakan bila terjadi cross wind atau hembusan yang melintangi arah landasan. Kalau kondisi cross wind dengan kecepatannya di bawah 8 knot, penerbangan masih dapat dilakukan.

"Kalau kecepatan cross wind di atas 10 knot, tidak disarankan melakukan take off landing. Dalam artian, penerbangan perlu ditunda dahulu," jelas Teguh.

Seperti tertulis pada rilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), penurunan suhu pada puncak musim kemarau disebabkan kandungan upa di atmosfer yang tergolong sedikit. Sehingga energi radiasi yang dilepaskan bumi ke luar angkasa terutama apda malam hari, tidak tersimpan di atmosfer. Berbeda dengan kondisi saat musim hujan atau peralihan.

Pada kondisi cuaca tersebut, kandungan uap air cukup banyak. Sehingga atmosfer menyimpang banyak energi yang terlepas dari bumi dan meningkatkan suhu udara.

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up