alexametrics

Putusan Banding, PT Pekanbaru Vonis Pentolan Saracen Dua Tahun

7 Juni 2018, 21:51:20 WIB

JawaPos.com – Pengadilan Tinggi (PT) Pekanbaru memvonis Jasriadi yang disebut-sebut sebagai pentolan grup Saracen selama dua tahun penjara. Hukuman ini, lebih tinggi dibandingkan yang sebelumnya. Dimana Hakim Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru memutusnya selama 10 bulan penjara.

Kasi Intel Kejari Pekanbaru, Ahmad Fuadi mengatakan, bahwa pihaknya selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) sudah menerima putusan atas kasus illegal akses tersebut. “Kita menunggu salinan putusan banding PT,” katanya, Kamis (7/6).

Terkait putusan banding PT yang menaikkan hukuman Jasriadi menjadi dua tahun tersebut, JPU menurut Ahmad Fuadi masih menunggu sikap terdakwa. Jika sikap hukum terdakwa menyatakan menempuh jalur Kasasi, maka JPU juga akan menempuh jalur yang sama.

“Kita nunggu sikap mereka, kalau kasasi kita juga akan ajukan kasasi,” tegasnya.

Vonis banding atas perkara ini, tercantum dalam website resmi Makamah Agung RI tanggal 5 Juni lalu. Sebelumnya, majelis hakim PN Pekanbaru menyatakan, Jasriadi terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana mengakses sistem elektronik milik orang lain.

Dalam persidangan saat itu, Jasriadi disebut sebagai salah satu anggota dari grup Saracen yang menyebarkan ujaran kebencian. Namun, dalam amar putusannya, ‎majelis hakim menyatakan kalau Jasriadi tidak termasuk ke dalam grup yang telah memfitnah Presiden Joko Widodo tersebut.

Di dalam dakwaan yang disampaikan oleh Jaksa, Jasriadi disebut telah mengedit foto Suarni dalam aplikasi photoshop dan mengubah nama dalam KTP Suarni pada 19 Maret 2017. Data yang diubah, dibuat seolah-olah identik dengan milik Saracen.

Jasriadi juga dituduh melakukan akses ilegal terhadap akun Facebook Sri Rahayu Ningsih yang sudah disita Mabes Polri. Ia dapat mengubah password dan recovery email untuk akun tersebut pada tanggal 5 Agustus 2017. Akun itu dikaitkan Jasriadi pada sejumlah orang.

Beberapa status tersebut diubah, seperti ‘Adakah keadilan di negeri ini, ‘Mati satu tumbuh seribu’ dan kmemuat tiga gambar screenshot Ahok. Semua perbuatan itu dilakukan Jasriadi di rumah terdakwa di Jalan, Kasa, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. Tujuan terdakwa mengakses akun Sri Rahayu Ningsih untuk mengetahui informasi tentang penangkapan Sri oleh polisi.

Sebelumnya, banyak berita yang menyebutkan, jika Jasriadi memulihkan akun Sri Rahayu Ningsih untuk melakukan ujaran kebencian melalui media sosial.

Tindakan itu dilakukannya karena dibayar untuk menjatuhi karakter seseorang. Jasriadi ditangkap tim Mabes Polri di Jalan Kasah, Pekanbaru, 8 Agustus 2017. Sebelumnya, Mabes Polri juga menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat dalam Grup Saracen.

Polisi juga menangkap admin Muhammad Abdullah Harsono yang mengunggah berbagai konten ujaran kebencian dan bernuansa SARA di dalam akun Facebook Saracen. Ia terpantau mengubah grup Saracen menjadi NKRI Harga Mati.

Sementara Harsono, sudah divonis oleh majelis hakim selama 2 tahun 8 bulan. Hukuman yang dijatuhi terhadapnya, dua tahun lebih ringan daripada tuntutan jaksa selama empat tahun.

Kelompok Saracen diketahui membuat sejumlah akun media sosial dan online. Akun-akun tersebut antara lain Saracen News, Saracen Cyber Team, dan Saracennews.com. Kelompok ini diduga menawarkan jasa menyebarkan ujaran kebencian terkait Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

Editor : Budi Warsito

Reporter : (ica/JPC)

Saksikan video menarik berikut ini:


Putusan Banding, PT Pekanbaru Vonis Pentolan Saracen Dua Tahun