JawaPos Radar

Kisah Wisudawan Terbaik UBT

Sempat Ingin Berhenti Kuliah Karena Rumah Orang Tua Terbakar

07/05/2018, 01:15 WIB | Editor: Ilham Safutra
Sempat Ingin Berhenti Kuliah Karena Rumah Orang Tua Terbakar
LULUSAN TERBAIK: Siti Nurul Jameaah bersama keluarga. (JOHANNY SILITONGA/RADAR TARAKAN/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com - Namanya Siti Nurul Jameaah. Derap langkahnya terlihat canggung. Maklum, seluruh pandangan mata tertuju pada langkah Meaah--begitu dia disapa. Semua orang itu baik undangan maupun wisudawan Universitas Borneo Tarakan (UBT) ingin menyaksikan siapa gerangan yang menjadi lulusan terbaik.

Dialah Siti Nurul Jameaah, perempuan yang baru saja menamatkan studinya di Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UBT.

Pada Sabtu (5/5), di Gedung Tennis Indoor Telaga Keramat Tarakan Tengah, Meaah menjadi salah satu dari 262 yang mengiktu wisuda di UBT yang dikukuhkan dalam rapat senat terbuka. Dengan wisuda itu, Meaah resmi menyandang gelar sarjana di belakang namanya.

Sempat Ingin Berhenti Kuliah Karena Rumah Orang Tua Terbakar
Ilustrasi wisuda: menjadi lulusan terbaik harus diawali dengan usaha belajar yang optimal. (Pixabay.com)

Tidak hanya itu, gadis kelahiran Nunukan 8 Juli 1996 tersebut menjadi lulusan terbaik pertama. Dia berhasil mencatatkan nilai transkrip nilai di indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,94.

Kepada Radar Tarakan (Jawa Pos Group) Meaah bercerita, dia menuntaskan kuliah selama empat tahun di UBT. Selama menjalani studi Meaah harus hidup mandiri. Pasalnya orang tua dan seluruh keluarganya tinggal di Nunukan. Sedangkan di berkuliah di Tarakan.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Tarakan untuk melanjutkan pendidikan, dara 22 tahun itu tak merasa canggung. Lebih optimis bisa bersaing dengan mahasiswa lain dari beberapa daerah lainnya. "Saya dari Nunukan. Ke Tarakan untuk kuliah saja, karena semua keluarga tinggal di Nunukan,” katanya.

Dia menyebut, pencapaian menjadi lulusan terbaik karena berkat doa kedua orang tua. Apalagi orang tua selalu berpesan bahwa hasil yang baik dilalui dengan proses yang baik pula. Jika terus berjuang dan berusaha pasti akan mendapatkan hasil yang baik.

Mulai awal perkuliahan Meah memang telah menargetkan nilai IP yang baik. “Semuanya harus ditargetkan, jangan sampai tidak ada target yang diinginkan. Dengan begitu bisa memicu kita menjadi lebih baik,” ujarnya.

Begitu juga saat baru masuk, dirinya juga menargetkan nilai kelulusan yang ingin dicapai. Bisa lebih, tetapi jangan turun. Awalnya memang Meah ingin mendapatkan IPK 3,8 saat kelulusan nanti. Ternyata dirinya sanggup mendapatkan nilai yang lebih tinggi dari itu.

Semua itu didapatkan tidak dengan instan. Karena dia juga tidak hanya berkiprah dan fokus hanya pada raihan akademik saja, tetapi juga non-akademik. Meah menjadi salah satu mahasiswa yang aktif di bidang organisasi. Tiga organisasi digeluti selama kuliah. Ternyata dengan berorganisasi dia merasa terbantu menyelesaikan pendidikan.

Selama menjalani perkuliahan, Meah pernah memiliki keinginan untuk berhenti atau cuti sementara untuk membantu orang tua. Alasannya orang tua terkena musibah. Rumah yang didiami orang tua terbakar. Bahkan kejadian menyedihkan terjadi dua kali.

"Saat itu memang menjadi hal yang menyedihkan, sampai ingin berhenti untuk bantu orang tua. Tetapi karena orang tua ingin saya melanjutkan sampai akhir, jadi saya berusaha sampai saat ini,” bebernya.

Meah sendiri memang sangat berterima kasih kepada kedua orang tuanya yang tetap mendukungnya walaupun dalam masa-masa sulit karena biaya. Tidak ingin memberatkan orang tua, beasiswa menjadi andalannya saat itu. Dengan mempertahankan nilai dan sikap yang baik, dirinya bangkit dari keterpurukan.

(iil/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up