alexametrics

Enam Kabupaten Direndam Banjir, Ada yang Setinggi 3 Meter

Di Madiun Terparah sejak 33 Tahun
7 Maret 2019, 10:36:32 WIB

JawaPos.com – Hujan deras pada Selasa (5/3) memicu banjir di kabupaten-kabupaten di Jawa Timur. Ngawi, Madiun, Tuban, Ponorogo, Bojonegoro, dan Pacitan seperti terisolasi. Sebab, banyak desa di wilayah-wilayah itu yang terendam air sampai ketinggian 3 meter.

Berdasar catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi, ada 15 desa di empat kecamatan yang terendam.

Enam Kabupaten Direndam Banjir, Ada yang Setinggi 3 Meter
Akibat curah hujan yang tinggi menguyur wilayah Kabupaten Madiun hampir 10 jam lebih menyebabkan air sungai meluap hingga merendam ratusan rumah di beberapa wilayah. (RENDRA BAGUS RAHADI/JAWA POS RADAR MADIUN)

Perinciannya, 8 desa di Kecamatan Kwadungan, 5 desa di Kecamatan Pangkur, dan masing-masing 1 desa di Geneng serta Ngawi. “Kami terus pantau perkembangan di lapangan,” ujar Plt Kepala Pelaksana BPBD Ngawi Eko Heru Tjahjono kemarin (6/3).

Heru mengatakan, hingga kemarin genangan air di sejumlah wilayah terdampak belum surut. Bahkan dimungkinkan mengalami kenaikan muka air. Pasalnya, wilayah hulu Bengawan Madiun kembali diguyur hujan deras. “Madiun banjirnya juga lumayan besar. Nanti semuanya mengalir ke Ngawi,” jelasnya.

Dengan begitu, wilayah terdampak banjir akan bertambah. “Kalau meluas, yang akan terdampak mungkin Mangunharjo dan Kandangan (Kecamatan Ngawi, Red). Untuk wilayah timur saya pikir masih aman, kecuali Kecamatan Padas,” terangnya.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ngawi Teguh Puryadi menambahkan, sejauh ini belum ada laporan soal jumlah penduduk yang terdampak banjir kali ini. Begitu pula soal kerugian materiil. “Sampai saat ini (kemarin sore, Red) kami bersama relawan masih melakukan pendataan,” ujarnya.

Hal yang sama terjadi di Madiun. Di sana air merendam rumah warga hingga ketinggian 3 meter. Misalnya yang terjadi di Dusun Jetak, Desa Purworejo, Kecamatan Pilangkenceng, kemarin. Yudi, warga setempat, menyebutkan bahwa tempat tinggalnya pernah dilanda banjir terakhir pada 1986. “Banjir kala itu tidak separah ini yang sampai 3 meter,” katanya.

Banjir merendam ratusan rumah di sembilan RT desa setempat. Mulai RT 17 hingga 29. “Saya panik karena tidak menyangka air sampai masuk rumah. Warga lain juga bingung hewan ternaknya,” ujar dia.

Menurut Yudi, karakteristik Kali Jerohan, kali yang bersebelahan dengan desanya, dulu dengan sekarang berbeda. Sungai yang hulu alirannya dari kawasan Gunung Wilis dan Karangjati, Ngawi, itu ditumbuhi banyak rumpun bambu di tepinya. Aliran sungai yang menjadi sempit diduga sebagai salah satu penyebab banjir menjadi parah.

Kemarin sedikitnya 125 warga Desa Purworejo terjebak banjir. Rumah mereka terendam hingga 2 meter. Petugas gabungan dari BPBD, kepolisian, dan TNI melakukan evakuasi dengan menggunakan perahu karet.

Kegiatan serupa dilakukan di sejumlah titik di antara belasan desa lain di lima kecamatan yang terdampak banjir. Selain Kecamatan Pilangkenceng, ada Saradan, Mejayan, Balerejo, dan Wungu. Desa Klumutan, Kecamatan Saradan, salah satu desa terparah terdampak banjir dengan ketinggian mencapai 5 meter. “Ini termasuk parah,” kata Kepala Desa Klumutan Agus Rokamanto.

Agus mengakui, wilayahnya memang daerah langganan banjir. Namun, genangannya tidak sampai menyentuh teras warga. Pada 1986, 33 tahun silam, tinggi genangan hanya 1 meter.

Di Tuban, banjir juga tidak kalah mengkhawatirkan. Hujan mengakibatkan sejumlah sungai meluap dan banjir bandang di beberapa kecamatan. Antara lain Kecamatan Parengan, Singgahan, Senori, dan Bangilan. Kemudian Kecamatan Montong, Kerek, Merakurak, dan wilayah kota.

Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Tuban, banjir terparah menerjang wilayah Kecamatan Parengan dan Merakurak. Banjir di dua kecamatan itu terjadi akibat meluapnya sungai setempat.

Kepala Pelaksana BPBD Tuban Joko Ludiyono mengatakan, di Parengan, luapan dari Kali Kening menerjang sepuluh desa. Akibat banjir, banyak kantor pemerintah yang tidak memberikan pelayanan. Sekolah menghentikan kegiatan belajar-mengajar. Puskesmas juga tutup, tak bisa memberikan pelayanan karena terendam.

Hari Ini Bengawan Solo Siaga Merah

Bukan hanya Bengawan Madiun yang mengakibatkan bajir. Luapan Bengawan Solo juga berdampak terhadap banjir di 21 desa di 9 kecamatan di Bojonegoro.

Plt (Pelaksana Tugas) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Nadif Ulfia mengatakan, status Bengawan Solo diperkirakan siaga merah pada hari ini. Sebab, wilayah Madiun juga sudah banjir. Apalagi, hujan lokal di wilayah Bojonegoro juga tidak berhenti.

Meski begitu, tinggi muka air (TMA) di wilayah Dungus, Ngawi, dan Karangnongko, Ngraho, Bojonegoro, cenderung stabil. “Diperkirakan kiriman air dari Dungus, Ngawi, selama 15 jam baru datang ke Bojonegoro,” ucap dia.

Dia mengatakan, kemarin pihaknya melakukan penutupan doorlat (pintu tanggul darurat) di wilayah Kelurahan Jetak, Ledok Wetan, TBS, dan Jalan Jaksa Agung Suprapto. Apalagi, sudah terjadi banjir di Kelurahan Ledok Wetan. Persiapan lainnya adalah personel yang telah siaga.

Selain itu, BPBD menyiapkan dana kedaruratan bencana dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2019 sekitar Rp 2 miliar. Banjir bandang dan luapan anak Bengawan Solo yang terjadi dua hari terakhir ini yang paling bahaya, yakni menggenangi permukiman warga.

Sementara itu, kemarin banjir mengepung wilayah perkotaan. Misalnya, Desa Pacul dan Desa Sukorejo. Namun, banjir karena luapan air hujan dan kali tersebut, sepertinya, tak begitu banyak berubah. Yakni, air tidak bisa lari ke Bengawan Solo dengan kondisi TMA yang tinggi.

Di Ponorogo, banjir melanda kawasan kota. Mulai Jalan KBP Duryat, Banda, Soekarno-Hatta, Letjen Suprapto, Menur, hingga sejumlah jalan protokol di kawasan kota lainnya. Yang paling menonjol, genangan 0,5 meter mengepung Alun-Alun Ponorogo.

Di depan rumahnya, ketinggian air mencapai paha orang dewasa. Disebabkan drainase yang tidak mampu menampung air. Sehingga meluap ke jalan dan rumah warga. “Ini baru pertama kalinya,” tambah dia. Pemkab menjanjikan perbaikan drainase pada tahun ini.

Nasib yang sama dialami warga Pacitan. Erosi anak Sungai Grindulu di Dusun Pradah, Desa Kedungbendo, Kecamatan Arjosari, kian mengkhawatirkan. Saat hujan lebat, air cepat meluap. Dampaknya, setiap kali hujan turun, 25 kepala keluarga yang tinggal tak jauh dari sungai harus mengungsi. Mereka khawatir derasnya aliran air membuat tanah yang ditempati ambles. “Cari tempat yang aman. Sebab, rata-rata warga sudah lanjut usia,” katanya.

BMKG Perkirakan Intensitas Hujan Meningkat

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan intensitas hujan meningkat selama tujuh hari ke depan (7 sampai 12 Maret 2019). Dinamika atmosfer menunjukkan kondisi-kondisi yang mendukung terbentuknya awan hujan.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Mulyono Rahadi Prabowo mengungkapkan bahwa Osilasi Madden-Julian atau pola anomali curah hujan di khatulistiwa saat ini terpantau berada di Samudra Hindia. Kondisi itu, kata dia, memberikan dukungan pada terbentuknya awan-awan hujan di atas wilayah Indonesia. “Terutama di wilayah Indonesia bagian barat,” ucapnya kemarin.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (mg7/fin/c1/tok/ds/mg6/bgs/ric/sat/tau/c9/c10/git)

Copy Editor :

Enam Kabupaten Direndam Banjir, Ada yang Setinggi 3 Meter