JawaPos Radar | Iklan Jitu

Ketua STPI: Pola Pikir Taruna Harus Direformasi

07 Februari 2019, 12:06:12 WIB
ATKP Makassar
Kampus ATKP Makassar, Jalan Salodong, Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar. (Sahrul Ramadan/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Kasus penganiayaan berat berujung tewasnya taruna tingkat I Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar Aldama Putra, 19, bukan kali pertama terjadi. Pada 2016, kasus serupa terjadi di akademi yang berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tersebut.

Ketua Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Novyanto Widadi menyikapi serius dua kasus tewasnya taruna ATKP dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. "Artinya ada masalah. Makanya kami butuhkan alat. Alat itu apa, sistem. Sistem untuk pelaporan. Mereka (taruna junior) itu tidak ada alat untuk melaporkan bahwa mereka terancam," kata Novyanto, Kamis (7/2).

Insiden perdana kala itu menimpa Ari Pratama, 20. Taruna ATKP Makassar angkatan 2015 itu ditemukan tewas tenggelam di kolam renang Brigade Infanteri (Brigif) Linud III TBS/Kostrad, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, pada 19 November 2016.

Pihak keluarga menemukan kejanggalan tewasnya korban. Di tubuh pemuda asal Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur itu ditemukan luka lebam. Khususnya di sekitar perut. Keluarga belum mengetahui penyebab pasti hilangnya nyawa korban.

Novyanto menilai, terdapat kesalahan yang fatal di dalam sistem pendidikan. Khususnya pengawasan internal ATKP terhadap seluruh aktifitas taruna-taruni. Jika tak ada langkah konkret, dugaan budaya kekerasan ini dikhawatirkan akan tetap langgeng di tataran siswa.

"Inilah yang akan kami ajarkan. Bagaimana taruna itu mampu mengidentifikasi bahaya terhadap dirinya. Kalau dia sudah tahu kalau itu bahaya dan resikonya seperti ini, laporkan. Pola pikir taruna harus direformasi," ungkap Novyanto.

Taruna didorong untuk berani melaporkan setiap kejanggalan-kejanggapan yang terjadi di internal kampus. Khususnya jika persoalan itu di luar konteks materi pendidikan atau pembelajaran yang didapatkan.

"Makanya ini yang akan kami buat. Sistem pelaporan formulir. Namanya (taruna) misalnya siapa. Akan tahu. Kemudian dilaporkan ke direktur, pengawas, sampai pengasuh biar jelas. Tidak ada lagi persoalan yang seperti ini," tegasnya.

Selain itu, internal ATKP Makassar juga diminta melakukan evaluasi internal. Khususnya persoalan pengawasan siswa. Terjadinya kasus dapat mencoreng lembaga pendidikan Kemenhub.

"Makanya dibutuhkan strong leadership. Tapi ini ada kekurangannya juga. Kalau pemimpinnya berpindah, potensi (kekerasan) itu pasti akan kembali. Yang intinya di sini adalah mengontrol dengan baik. Dengan sistem, mengubah kultur supaya terekam di dalam kepala taruna bahwa kekerasan itu tidak baik," tutupnya.

Editor           : Sofyan Cahyono
Reporter      : Sahrul Ramadan

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up